Jakarta, CNBC Indonesia - CEO BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan alasan di balik tarif layanan IndiHome yang kian terjangkau. Hal ini tidak lepas dari proses konsolidasi yang dilakukan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dengan menyatukan layanan internet tetap tersebut bersama Telkomsel.

IndiHome sendiri resmi bergabung ke dalam ekosistem Telkomsel sejak 2023 lalu. Sebelumnya, layanan fixed broadband tersebut berada langsung di bawah naungan Telkom, di mana penggabungan ini dilakukan sebagai langkah strategis penerapan Fixed Mobile Convergence (FMC).

Pasca-integrasi tersebut, seluruh layanan IndiHome kini telah melekat dalam ekosistem Telkomsel, mulai dari penyediaan ragam paket hingga kemudahan akses pelanggan melalui aplikasi MyTelkomsel.

Dony menjelaskan, ketika IndiHome masih dikelola sepenuhnya oleh Telkom, proses pembangunan infrastruktur fiber optic melibatkan rantai birokrasi dan entitas yang terlalu panjang, mulai dari Telkom Infra hingga Telkom Akses.

Mengutip penjelasan dari pihak internal Telkom, skema lama tersebut membuat biaya operasional membengkak hingga 150% lebih mahal dibandingkan para kompetitor. Pasalnya, terdapat empat perusahaan berbeda yang terlibat dalam proses pengerjaan, di mana masing-masing entitas mengambil margin keuntungan sendiri.

"Ini menurut teman-teman Telkom, itu 150% lebih mahal daripada kompetitor karena melibatkan empat perusahaan, masing-masing mengambil margin dari dirinya sendiri," ujar Dony dalam wawancara bersama CNBC Indonesia TV, Jumat (4/9/2026).

Inefisiensi inilah yang coba dipangkas secara agresif melalui aksi korporasi dan konsolidasi. "Yang kita hilangkan ini jumlahnya total dalam ekosistem kita itu Rp 30 triliun," imbuhnya.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini juga sempat menyampaikan bahwa salah satu fokus utama perusahaannya saat ini adalah melakukan perampingan (streamlining). Jumlah anak usaha yang sebelumnya sangat gemuk kini dipangkas secara terstruktur.

Ke depan, Telkom hanya akan mempertahankan anak usaha yang benar-benar sejalan dengan kompetensi inti (core strength) perusahaan, sehingga alokasi belanja modal (Capex) dan biaya operasional (Opex) dapat dikelola secara jauh lebih berdaya guna dan efektif.

"Sehingga fokus dari bisnis kami itu bisa diarahkan ke tempat yang memang matters bagi Telkom, ya ke area yang memang merupakan core strength-nya Telkom," ucap Dian.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]