Investasi Hilirisasi Tembus Rp300 Triliun, Bauksit Geser Nikel pada Kuartal II
Bagikan:
JAKARTA – Investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp300 triliun pada semester pertama 2026 atau 29,7 persen dari seluruh investasi yang masuk ke Indonesia. Porsinya terus membesar, tetapi masih didominasi pengolahan mineral dan terkonsentrasi di luar Jawa.
Menteri Hilirisasi dan Investasi sekaligus Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan kontribusi hilirisasi terhadap investasi nasional naik dari sekitar 24–25 persen pada 2023 menjadi hampir 30 persen tahun ini.
“Trennya, kami melihat hilirisasi ke depan akan terus meningkat,” kata Rosan di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 16 Juli.
Investasi hilirisasi mineral mencapai Rp206,5 triliun. Sektor perkebunan dan kehutanan menyerap Rp54,4 triliun, disusul minyak dan gas bumi Rp35,4 triliun serta perikanan dan kelautan Rp3,8 triliun.
Sebanyak 75,7 persen investasi hilirisasi atau Rp227,3 triliun berada di luar Jawa. Proyek tersebut tersebar antara lain di Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat.
BACA JUGA:
Dari sisi sumber modal, investasi asing pada sektor hilirisasi mencapai Rp212,8 triliun. Investasi dalam negeri tercatat Rp87,3 triliun.
Pada triwulan kedua 2026 saja, investasi hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun. Nilainya naik 5,7 persen dan menyumbang 29,8 persen dari total investasi kuartal tersebut.
Perubahan mencolok terjadi pada komoditas utama. Bauksit untuk pertama kalinya menempati posisi teratas, menggeser nikel yang selama ini mendominasi investasi hilirisasi.
“Biasanya nikel selalu nomor satu. Sekarang ada pergeseran, bauksit nomor satu,” ujar Rosan.
Menurut Rosan, kenaikan investasi bauksit didorong pembangunan sejumlah proyek oleh investor dalam negeri dan asing.
Pemerintah tetap ingin memperluas hilirisasi ke komoditas lain, termasuk kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, minyak dan gas bumi, serta hasil perikanan.
Rosan menilai hilirisasi sejumlah komoditas masih berada pada tahap awal. Berbeda dengan nikel yang rantai industrinya telah mencakup bijih, nikel sulfat, bahan katoda dan anoda, sel baterai, paket baterai, hingga daur ulang baterai.
Pola serupa akan didorong pada bauksit dan komoditas lain yang memiliki cadangan besar di Indonesia.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+