Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar Bali Tech Week 2026 pada 19–23 Oktober untuk menarik investasi dan memperkuat ekosistem teknologi nasional. Langkah ini dilakukan saat pendanaan startup Indonesia masih tertinggal jauh dari Singapura, meskipun nilai transaksi ekonomi digital Tanah Air terus tumbuh.

Pendanaan startup Indonesia mencapai US$ 392 juta atau Rp 7,02 triliun hingga 5 Oktober 2026. Realisasi ini melampaui total pendanaan sepanjang tahun lalu yang mencapai US$ 358 juta atau sekitar Rp 6,41 triliun, berdasarkan data yang disampaikan pemerintah.

Namun, angka tersebut masih menunjukkan tantangan dalam mengembangkan ekosistem startup nasional agar lebih kompetitif dalam menarik modal. Berdasarkan laporan Southeast Asia Startup Funding Report Full Year 2025 dari DealStreetAsia, pendanaan startup Indonesia sepanjang 2025 tercatat US$ 340 juta atau Rp 5,72 triliun.

Nilai tersebut setara dengan 6,3% dari total pendanaan startup Asia Tenggara. Sementara itu, Singapura mencatat pendanaan US$ 4,2 miliar atau sekitar Rp 70,74 triliun sepanjang 2025, setara dengan 78,1% dari total investasi startup di kawasan tersebut.

Kesenjangan juga terlihat dari pembentukan perusahaan rintisan berstatus unicorn, yakni startup dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar. Mengutip laporan yang sama, Indonesia belum melahirkan unicorn baru sejak 2024, sementara sejumlah startup di negara lain, terutama Singapura, berhasil mencapai status tersebut.

Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan teknologi dunia. Namun, besarnya pasar belum sepenuhnya diikuti investasi dan pengembangan industri teknologi nasional.

Menurut Meutya, pertumbuhan ekonomi digital ke depan akan dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI), infrastruktur digital, kualitas data, ekosistem inovasi, dan strategi kemitraan.

Mengutip laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar US$ 99 miliar pada 2025. Angka itu tumbuh 14% secara tahunan atau year on year (yoy).

“Pemerintah tidak dapat membangun ekosistem digital tunggal. Oleh karena itu, Bali Tech Week 2026 menjadi wujud kerja bersama pemerintah, industri, investor, inovator, dan komunitas untuk memperkuat daya saing ekonomi digital Indonesia,” kata Meutya dalam keterangan resmi, Rabu (14/10).

Ia berharap Bali Tech Week dapat memperkuat kepercayaan investor, pelaku industri, dan komunitas teknologi global terhadap potensi Indonesia.

Komdigi Bidik Investor Global

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan Bali Tech Week 2026 telah mencatat 1.785 peserta terdaftar, dengan 1.762 peserta terkonfirmasi. Sebanyak 135 peserta berasal dari luar negeri, dengan keterwakilan lebih dari 30 negara.

Acara ini mempertemukan berbagai elemen ekosistem teknologi, mulai dari konektivitas dan infrastruktur digital, kebijakan, pengembangan pasar, pemanfaatan AI, hingga investasi.

Melalui kegiatan business matchmaking, dialog kebijakan, dan pertemuan investor, Komdigi berharap pelaku teknologi Indonesia dapat memperluas jejaring, menjajaki pasar, serta menemukan mitra bisnis dan sumber pendanaan yang relevan.

“Harapannya, peluang yang terbuka di Bali dapat berkembang menjadi kolaborasi nyata setelah kegiatan berakhir,” ujar Edwin.

Bali Tech Week 2026 mengusung tema “Archipelago Ascending — Maju Bersama, Berinovasi Lebih Lanjut”. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada 19–23 Oktober 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali.

Pemerintah menargetkan lebih dari 4.000 peserta dan 1.000 delegasi internasional dari lebih dari 30 negara.

Bali Tech Week juga mencakup 13 kegiatan utama, antara lain BTW Con, Telkom Sovereign Tech Summit, HUB.ID Summit, IGDX 2026, KORIKA AIIS 2026, ITSEC AICX 2026, Tokocrypto Digital Summit, Digital Economic Policy Forum, Endeavour Global Forum, dan Bali Capital Circle.

Rangkaian kegiatan tersebut mencakup sektor startup, gim, AI, keamanan siber, aset digital, infrastruktur, kebijakan, dan investasi.

Infrastruktur Digital Jadi Penopang

Direktur Network Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba mengatakan penguatan konektivitas dan infrastruktur digital perlu disertai pengembangan pusat data komputasi, cloud, dan pemanfaatan AI untuk menjawab kebutuhan dunia usaha.

Menurut Budi, Bali Tech Week dapat menjadi platform kolaborasi antara pemerintah, industri, inovator, dan investor untuk memperkuat ekosistem teknologi digital Indonesia sekaligus membuka peluang investasi.

“Kami berharap kolaborasi ini dapat membuka peluang kemitraan dan investasi, memperkuat kapabilitas teknologi nasional, dan mendorong inovasi dan daya saing industri untuk menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi Indonesia,” ujar Budi.

Tantangan menarik investasi startup juga terjadi di tengah pergeseran minat investor menuju teknologi AI.  Laporan Southeast Asia Startup Funding Report Full Year 2025 dari DealStreetAsia menunjukkan, pendanaan ke perusahaan rintisan berbasis akal imitasi Asia Tenggara tercatat lebih dari US$ 2,3 miliar sepanjang 2025.

Startup berbasis AI menyerap lebih dari 30% total nilai pendanaan swasta di kawasan tersebut. Namun, Singapura masih mendominasi ekosistem startup AI dengan lebih dari 495 perusahaan aktif yang berdiri sejak 2020, dibandingkan 45 perusahaan di Indonesia.

Data tersebut menunjukkan bahwa peluang ekonomi digital yang besar belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama investasi startup regional.

Melalui Bali Tech Week 2026, pemerintah berharap pertemuan antara pelaku industri, investor, dan inovator dapat menghasilkan kemitraan serta pendanaan yang memperkuat daya saing teknologi nasional. Tantangan berikutnya yakni memastikan kolaborasi ini berlanjut menjadi investasi nyata dan mendorong pertumbuhan perusahaan teknologi Indonesia.