Jalan Keluar Agar Tak Lagi Bermalam di Stasiun Cikarang
Liputan6.com, Jakarta - Memejamkan mata dengan duduk di kursi atau tertidur beralaskan lantai bukanlah kondisi yang ideal untuk dilakukan terus-menerus. Tapi bagi Rian (25) dan penumpang lainnya, cara ini pilihan satu-satunya agar tidak terlambat bekerja keesokan harinya.
Rian cukup sering bermalam di Stasiun Cikarang. Dua hingga tiga malam dalam sepekan dihabiskan dengan menginap di stasiun. Walau sudah terbiasa dengan ketidaknyamanan, Rian berharap tak ingin terus-terusan dalam kondisi itu.
Rian berharap ada jalan keluar yang ditawarkan bagi para penumpang yang selama ini terpaksa bermalam. Dalam benaknya sederhana. Ada ruangan khusus bagi penumpang yang menunggu jadwal keberangkatan pagi.
“Agar mereka bisa lebih nyaman istirahat, untuk menginap di stasiun. Itu saja sih kalau saya inginkan,” ungkap Rian.
Akan lebih baik, kata Rian, jika ada fasilitas gerai makanan dan minuman yang beroperasi sepanjang malam. Untuk mengusir lapar atau haus di tengah malam. Tanpa harus keluar dari area stasiun.
Ada satu lagi harapannya. Jam operasional kereta pertama dapat dimajukan. Bagi Rian, itu jalan keluar terbaik untuk membantu para penumpang agar tidak perlu menunggu lama di stasiun hingga subuh pukul 04.00 WIB.
“Kalau yang saya inginkan sebenarnya sih lebih dipercepat sih (jam operasionalnya),” kata Rian.
Harapan serupa turut disampaikan oleh Yori (42). Meski baru pertama kali bermalam di Stasiun Cikarang, dia meyakini setiap orang yang memilih menghabiskan malam di stasiun karena punya tujuan masing-masing. Ada yang hendak berangkat bekerja, ada pula yang ingin pulang ke rumah.
Yori melihat, sebagian orang yang rela bermalam di stasiun adalah penumpang yang menunggu kereta pertama agar berangkat kerja atau pulang lebih awal tanpa perlu desak-desakan.
Yori tidak memiliki banyak tuntutan terhadap fasilitas di stasiun. Baginya, selama penumpang menunggu perjalanan, bisa diberikan ruang istirahat di area stasiun.
“Yang penting tidak diusir saja. Kita penumpang, bukan sekadar numpang tidur,” kata dia.
Bagi Yori dan Rian, atau bahkan penumpang-penumpang lainnya, bermalam di stasiun bukan gaya hidup atau pilihan yang menyenangkan. Mereka hanya berusaha mencari jalan yang paling efektif dan efisien agar tak tertinggal dalam perjalanan esok hari.
Mereka berharap, ke depan terdapat kebijakan baru yang berpihak para penumpang, sehingga tidak lagi menghabiskan malam di ruang tunggu dengan kondisi seadanya hanya untuk mengejar kereta pertama.