Jakarta (ANTARA) - Kementerian Sosial menegaskan keberadaan program Sekolah Rakyat dirancang untuk melengkapi dan memperkuat sistem pendidikan nasional yang sudah ada, khususnya dalam menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Sosial, Devi Deliani, dalam keterangan di Jakarta, Jumat, menjelaskan kehadiran Sekolah Rakyat tidak dimaksudkan untuk bersaing maupun mengambil alih alokasi anggaran pendidikan yang sudah berjalan.

"Sekolah Rakyat melengkapi sekolah negeri yang terus dibenahi di jalurnya masing-masing, bukan menyaingi atau mengambil alih anggarannya," katanya.

Program ini berjalan seiring dengan upaya pembenahan sekolah negeri di jalurnya masing-masing.

Devi menambahkan, program ini dilaksanakan secara terukur sesuai dengan direktif Presiden Prabowo Subianto dalam memperluas jangkauan layanan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan di seluruh Indonesia.

Baca juga: Mensos laporkan Sekolah Rakyat beroperasi di 182 titik

"Sesuai arahan Presiden Prabowo, negara menargetkan lebih dari 150.000 siswa dapat terlayani pada 2027. Target jangka panjang kita hingga kelak, setiap kabupaten dan kota memiliki gedung permanen berkapasitas lebih dari 2.000 siswa," lanjut Devi.

Inisiatif ini sebagai langkah strategis pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pemberian hak pendidikan yang setara dan inklusif.

"Sekolah Rakyat adalah janji bahwa tidak ada anak Indonesia yang harus mewarisi kemiskinan orang tuanya hanya karena tidak pernah diberi kesempatan. Ini adalah bentuk investasi bangsa untuk menciptakan anak cucu dan generasi mendatang yang tumbuh lebih adil dan sejahtera," kata Devi.

Dengan komitmen perluasan fasilitas fisik dan sistem kuota penampungan di setiap daerah, pemerintah optimistis Sekolah Rakyat dapat menjadi jembatan bagi anak-anak Indonesia untuk mendapatkan hak dasar pendidikan tanpa terhalang kondisi ekonomi keluarga.

Baca juga: Kementerian PU bangun sembilan Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.