Islamabad (ANTARA) - Jepang akan menghentikan operasional salah satu reaktor nuklir di wilayah timur laut Jepang pada Sabtu (17/10) setelah terdeteksi kebocoran air yang mengandung sejumlah kecil zat radioaktif, menurut operator pembangkit listrik tersebut pada Kamis (15/10).

Menurut Kyodo News, perusahaan Tohoku Electric Power Co. menyatakan reaktor nomor 2 di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Onagawa, Prefektur Miyagi, akan dimatikan untuk keperluan pemeriksaan dan penggantian komponen yang rusak.

Perusahaan tersebut menjelaskan sejumlah kecil zat radioaktif ditemukan dalam air yang bocor, namun seluruh air yang terkontaminasi telah berhasil ditampung.

Mereka menjelaskan tidak ditemukan tingkat radiasi yang tidak wajar di lingkungan sekitar.

Pihak operator memperkirakan kebocoran air terjadi dengan laju sekitar 0,2 metrik ton per jam.

Kenaikan permukaan air di bak penampungan drainase yang terpantau sejak Juli memicu penyelidikan yang kemudian mengidentifikasi adanya kebocoran di salah satu katup.

Perusahaan menyatakan bahwa proses pemeriksaan, perbaikan, dan persiapan untuk mengoperasikan kembali reaktor tersebut akan memakan waktu sekitar 10 hari.

Reaktor Onagawa merupakan reaktor pertama di Jepang bagian timur yang kembali beroperasi setelah bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat pada 2011 yang memicu bencana nuklir Fukushima.

Reaktor itu sempat dimatikan sementara pada November 2024, hanya beberapa hari setelah kembali beroperasi, akibat adanya masalah pada peralatan.

Reaktor tersebut kemudian beroperasi kembali pada akhir bulan yang sama setelah perbaikan selesai dilakukan.

Bencana pada 2011 memaksa Jepang untuk menghentikan seluruh operasional nuklir di tingkat nasional dan menerapkan persyaratan keselamatan yang lebih ketat sebelum mengizinkan reaktor-reaktor nuklir untuk beroperasi kembali.

Sumber: Anadolu

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.