JIFHEX di Yogyakarta dorong digitalisasi bisnis kuliner berbagai daerah
JIFHEX di Yogyakarta dorong digitalisasi bisnis kuliner berbagai daerah
Sabtu, 29 Agustus 2026 18:24 WIB
Jogja International Food & Horeca Expo (JIFHEX) di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta 28–30 Agustus 2026, salah satunya bertujuan mendorong digitalisasi bisnis kuliner di berbagai daerah. (ANTARA/HO-ESB)
Yogyakarta (ANTARA) - Pameran bertajuk Jogja International Food & Horeca Expo (JIFHEX) 2026 yang digelar di Jogja Expo Center (JEC) Daerah Istimewa Yogyakarta pada 28–30 Agustus 2026, salah satunya bertujuan untuk mendorong digitalisasi bisnis kuliner di berbagai daerah.
"Partisipasi kami di JIFHEX merupakan bagian dari komitmen ESB (Esensi Solusi Buana) untuk mendukung digitalisasi bisnis kuliner di berbagai daerah," kata CEO dan Co-Founder ESB Gunawan Woen di JEC Yogyakarta, Sabtu.
Menurut dia, pengunjung JIFHEX 2026 dapat berkonsultasi mengenai kebutuhan sistem operasional bisnis kuliner, serta melihat bagaimana integrasi POS F&B, sistem pemesanan online, manajemen stok, dan sistem ERP dapat membantu bisnis bekerja dengan data yang lebih terpusat.
"Kami ingin pelaku usaha, mulai dari bisnis yang sedang berkembang hingga jaringan multi-outlet, dapat memiliki akses terhadap sistem yang membantu operasional mereka menjadi lebih terintegrasi, terukur, dan mudah dikendalikan," katanya.
Menurut dia, berdasarkan data BPS DIY, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tercatat tumbuh 10,56 persen mencerminkan kuatnya aktivitas bisnis yang berkaitan dengan pariwisata, perhotelan, restoran, dan konsumsi makanan-minuman di wilayah tersebut.
"Yogyakarta adalah contoh menarik, aktivitas bisnis kuliner dan hospitality terus bergerak, tetapi pertumbuhan juga membuat kompleksitas operasional semakin besar," katanya.
Namun demikian, kata dia, pertumbuhan bisnis juga diikuti kompleksitas operasional yang semakin tinggi, sehingga pelaku usaha kuliner perlu mengelola transaksi dari berbagai kanal, perubahan biaya operasional, strategi promosi, ketersediaan bahan baku, hingga kebutuhan untuk mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat.
"Pengusaha tidak cukup hanya mengejar penjualan, mereka perlu mengetahui outlet mana yang sehat, menu mana yang menguntungkan, bagaimana kondisi stok, dan apakah strategi promosi benar-benar memberikan dampak terhadap bisnis," katanya.
Menurut dia, salah satu perubahan yang semakin terlihat adalah berkembangnya kanal pemesanan makanan secara online, pertumbuhan ini menunjukkan semakin pentingnya kemampuan bisnis kuliner dalam mengelola pesanan dari berbagai kanal secara lebih terintegrasi.
Karena itu, melalui ESB POS, bisnis dapat mengelola transaksi, menu, promosi, dan operasional kasir serta mengintegrasikan pesanan dari sejumlah kanal online, sementara ESB Core, sistem ERP untuk bisnis kuliner, membantu pengelolaan pengadaan, stok dan inventory, produksi, HPP, hingga laporan keuangan secara terintegrasi.
"Tujuan kami bukan sekadar menyediakan aplikasi kasir restoran atau software untuk mencatat transaksi. Tantangan bisnis kuliner hari ini saling terhubung, sehingga sistemnya juga perlu saling terhubung," katanya.
Menurut dia, ketika data penjualan, pesanan, stok, produksi, dan keuangan masih berjalan sendiri-sendiri, maka pemilik bisnis akan semakin sulit melihat kondisi operasional secara menyeluruh.
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026