JK Dorong Negara Islam Ambil Inisiatif Dialog Redam Konflik Saudi-Houthi |Republika Online
Mantan Wapres RI Jusuf Kalla di Kongres Umat Islam Indonesia ke-VIII di Jakarta, Ahad (26/7/2026).
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) mengaku prihatin dengan kembali memanasnya situasi keamanan di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Menurut dia, negara-negara Islam harus segera mengedepankan dialog agar konflik tidak semakin meluas.
"Kita sangat sayangkan apa yang terjadi makin meluas. Semula kita kira sudah ada kesepakatan antara Iran dan Amerika. Malah makin luas," ujar JK usai menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Jakarta, Ahad (26/7/2026).
JK menilai penyelesaian konflik seharusnya diupayakan oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah sendiri. Menurut dia, negara-negara Arab perlu mengambil peran lebih besar untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, terutama dalam konflik yang melibatkan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi.
"Kita harap bahwa di Timur Tengah sendiri dan negara-negara Arab berusaha untuk mendamaikan masing-masing, khususnya yang terjadi sekarang antara Yaman dengan Saudi, Yaman dengan Houthi dengan pemerintah," ucapnya.
Jusuf Kalla
Ia juga meminta Houthi menahan diri dan mengutamakan perdamaian dengan pemerintah Yaman agar konflik internal tidak semakin memperburuk situasi kawasan.
"Kita harapkan bahwa Houthi sendiri juga menahan diri untuk dengan pemerintah berdamai. Jangan dalam keadaan begini internal mereka, tidak menimbulkan masalah di Timur Tengah," katanya.
Di sisi lain, JK berharap Arab Saudi juga menahan diri selama Houthi menunjukkan komitmen serupa. Menurut dia, negara-negara besar, terutama Amerika Serikat, juga memiliki tanggung jawab untuk menghentikan eskalasi konflik.
"Saudi tentu menahan diri selama Houthi menahan diri. Begitu juga negara lain. Amerika yang sebetulnya harus menghentikan itu semua. Tapi di antara negara Islam harus bersatu," jelasnya.
JK yang selama ini dikenal berpengalaman dalam berbagai proses perdamaian di dalam maupun luar negeri menegaskan, jalan dialog tetap menjadi solusi terbaik dibandingkan penggunaan kekerasan.
Menurut dia, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) harus menjalankan perannya sebagai wadah untuk mempertemukan negara-negara Islam dan mendorong penyelesaian konflik melalui perundingan.
"Harus ada upaya dialog antara negara-negara Islam itu. Inilah fungsi daripada OKI dan negara-negara Islam lainnya," kata JK.
Ia pun mendorong Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia mengambil inisiatif diplomatik guna membantu meredakan ketegangan di Timur Tengah.
"Indonesia sebagai negara umat Islam terbesar juga perlu berinisiatif untuk itu. Semua bisa diselesaikan dengan dialog. Kalau hanya kekerasan saja, maka beginilah dunia Islam itu," ujar JK.