Jakarta -

Jumlah pendaki di sejumlah gunung di Jepang tercatat menurun dalam dua tahun terakhir. Di saat bersamaan, penampakan beruang di berbagai wilayah justru semakin sering dilaporkan.

Data itu terungkap dari analisis Beacon Bank yang membandingkan pola pergerakan manusia di 100 gunung favorit Jepang pada April-Juni 2024, 2025, dan 2026. Rentang waktu tersebut dipilih karena mencakup musim semi, ketika beruang keluar dari hibernasi dan mulai beraktivitas di area pegunungan.

Dikutip dari Japan Today, Kamis (27/8/2026), Beacon Bank menggunakan data GPS dari ponsel untuk menghitung jumlah orang yang berada dalam radius 500 meter dari puncak gunung. Hasilnya menunjukkan jumlah pendaki secara nasional turun 18 persen dibandingkan 2024.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penurunan paling tajam terjadi di wilayah Tohoku, Jepang timur laut, dengan jumlah pendaki yang merosot 34 persen dalam dua tahun terakhir. Pada saat yang sama, wilayah tersebut juga mencatat jumlah penampakan beruang tertinggi di Jepang.

Data Kementerian Lingkungan Jepang menunjukkan terdapat 20.513 laporan penampakan beruang di Tohoku pada 2023. Angka itu melonjak menjadi 50.801 laporan pada 2025 setelah gagal panen biji ek dan kacang-kacangan, yang merupakan sumber makanan utama beruang, mendorong satwa tersebut lebih sering mendekati kawasan permukiman.

Data sementara hingga Agustus 2026 juga menunjukkan tren tersebut belum mereda. Tohoku kembali mencatat jumlah penampakan beruang tertinggi dibandingkan wilayah lain di Jepang.

Menurut Beacon Bank, penurunan jumlah pendaki dan peningkatan penampakan beruang menunjukkan pola geografis yang konsisten. Namun, analisis tersebut belum dapat memastikan bahwa kemunculan beruang menjadi penyebab langsung berkurangnya aktivitas pendakian.

Dari 23 gunung yang dianalisis secara khusus, Gunung Hachimantai di Prefektur Iwate mengalami penurunan jumlah pendaki terbesar, yakni 46 persen dibandingkan dua tahun lalu. Sebaliknya, Gunung Kaimon di Prefektur Kagoshima justru mencatat kenaikan jumlah pendaki sebesar 18 persen pada periode yang sama.

Meski hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan, meningkatnya aktivitas beruang menjadi pengingat bagi pendaki untuk lebih waspada. Sebelum mendaki, wisatawan disarankan memantau informasi terbaru mengenai penampakan beruang dan mengikuti panduan keselamatan yang berlaku di kawasan setempat.

(upd/fem)