Kabut Asap Memburuk, Singapura Mulai Bagikan Masker N95 Gratis
Jakarta -
Pemerintah Singapura mulai membagikan masker N95 kepada kelompok warga rentan sebelum Pollutant Standards Index (PSI) atau Indeks Standar Polutan selama 24 jam melampaui angka 200. Langkah ini dilakukan di tengah kondisi kabut asap yang semakin memburuk dan desakan dari sejumlah warga agar masker dapat diakses lebih awal.
Dikutip dari laman CNA, rencana awal yang diumumkan oleh gugus tugas kabut asap pemerintah pada 9 Oktober menyatakan bahwa distribusi masker akan dimulai ketika PSI 24 jam melebihi 200, yang menandakan kondisi sangat tidak sehat.
Namun, distribusi masker secara bertahap mulai dilakukan pada Rabu (14/10), setelah pembacaan PM2.5 di wilayah barat Singapura mencapai kategori sangat tinggi pada pukul 14.00. Kondisi ini menjadi yang pertama terjadi selama musim kabut asap tahun ini. National Environment Agency (NEA) juga memperingatkan bahwa nilai PSI berpotensi memasuki kategori sangat tidak sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masker disediakan secara bertahap di sejumlah titik pengambilan yang telah ditentukan, termasuk klub komunitas, mesin penjual otomatis di beberapa pusat transportasi umum, kantor layanan sosial, serta pusat kegiatan asosiasi masyarakat. NEA mengatakan bahwa masker mungkin belum langsung tersedia di seluruh lokasi.
Kelompok yang memenuhi syarat menerima masker meliputi wanita hamil, anak-anak berusia tujuh hingga 16 tahun, serta orang-orang dengan kondisi medis tertentu, seperti asma. Gugus tugas tersebut menyatakan bahwa masker N95 umumnya tidak diperlukan untuk paparan singkat di luar ruangan, seperti perjalanan dari rumah ke sekolah atau tempat kerja, maupun saat berada di dalam ruangan.
Asisten Profesor Seow Wei Jie dari Saw Swee Hock School of Public Health, National University of Singapore (NUS), mengatakan bahwa PSI tetap menjadi indikator yang digunakan untuk menilai kualitas udara harian dan menyusun kebijakan kesehatan masyarakat secara lebih luas.
Menurutnya, sebagian besar bukti ilmiah mengenai dampak jangka pendek paparan partikel polutan terhadap kesehatan didasarkan pada konsentrasi rata-rata harian. Sementara itu, pembacaan PM2.5 dalam periode satu jam memberikan gambaran kualitas udara yang lebih cepat, terutama ketika kondisi berubah dengan cepat.
"Karena itu, kedua indikator tersebut memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi," kata Seow.
Ia menambahkan, risiko kesehatan juga dipengaruhi oleh durasi paparan polusi, tingkat aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.
Warga Singapura berusia 78 tahun, Lindy Foo, mengatakan bahwa beberapa anggota tetap kelompok olahraganya tidak datang karena khawatir dengan kabut asap. Ia, yang memiliki masalah paru-paru dan mulai batuk, menilai masker N95 seharusnya tersedia sebelum PSI mencapai angka 200.
"Saya rasa mereka seharusnya memberikan peringatan lebih awal," katanya. Ia menambahkan bahwa menunggu hingga tingkat polusi meningkat dapat menggagalkan upaya warga untuk melindungi diri.
(elk/kna)