Jakarta,CNBC Indonesia - Teknologi baru kacamata pintar memungkinkan pengguna mengambil foto, merekam video, mendengarkan musik, melakukan panggilan telepon, menerjemahkan teks, atau berinteraksi dengan AI. Penjualan kacamata pintar telah mencapai jutaan unit.

Perangkat tersebut menarik perhatian baru-baru ini setelah adanya kerjasama pemasaran antara Kylie Jenner dan raksasa teknologi Meta.

Karena ponsel pintar kini sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari, Big Tech semakin memandang kacamata sebagai teknologi yang dapat dikenakan, dibantu oleh kemajuan AI.

Meta menjual sekitar 7 juta pasang kacamata pada 2025, naik dari total 2 juta pada 2023 dan 2024. Perusahaan lain, termasuk Google dan Snap, juga bersiap meluncurkan kacamata bertenaga AI.

Namun dengan pertumbuhan tersebut, muncullah kontroversi.

Kekhawatiran mencapai puncaknya pada musim panas di Eropa, terutama di Inggris yang menyaksikan pemberitaan media soal "kacamata cabul" dan laporan bahwa Meta sedang mengembangkan fitur pengenalan wajah untuk diintegrasikan ke dalam perangkat.

Dalam satu kasus, seorang gadis berusia 17 tahun mengatakan kepada stasiun televisi Inggris Channel 4 News pada Agustus lalu bagaimana dia didekati oleh seorang pria yang secara diam-diam merekam dirinya dan interaksi mereka.

Dihubungi oleh AFP, Meta mengatakan pihaknya telah mengambil beberapa langkah untuk mencegah gangguan pada lampu LED berkedip yang dimaksudkan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa perangkat tersebut sedang merekam.

"Investasi ini sudah mempunyai efek jera," katanya. Meta menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang menawarkan untuk menonaktifkan lampu LED telah ditutup sebagai dampaknya.

Uni Eropa 'harus bertindak'

Sementara itu, ibu kota Norwegia, Oslo, melarang penggunaan kacamata di sekolah. Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mengatur penggunaannya dan mempertimbangkan pelarangan fitur-fitur yang memungkinkan pengenalan wajah di depan umum.

Sementara itu, Uni Eropa didesak untuk menangani masalah ini.

Anggota parlemen Uni Eropa Veronika Cifrova Ostrihonova mengatakan kepada AFP bahwa dia mengangkat masalah ini setelah kasus pertama perempuan difilmkan secara diam-diam, untuk mengetahui apakah kacamata tersebut mematuhi perlindungan data dan aturan AI.

"Saya masih menunggu jawaban," kata anggota parlemen Slovakia itu.

"Kita memerlukan peraturan yang jelas untuk melindungi dan penegakan hukum yang kuat untuk memastikan teknologi baru tidak mengorbankan hak-hak dasar kita," katanya.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]