Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kembalinya Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia ke level ekspansi 50,2 menjadi sinyal positif bagi sektor industri. Meski demikian, pemulihan manufaktur masih berada pada tahap awal dan belum dirasakan secara merata di seluruh sektor.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah KADIN Indonesia, Erwin Aksa, mengatakan capaian PMI tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur mulai kembali berekspansi setelah sebelumnya mengalami tekanan. Namun, pemulihan itu belum merata di seluruh sektor industri. 

“Dunia usaha tetap mencermati perkembangan permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor, karena keduanya akan sangat menentukan keberlanjutan ekspansi industri," ujarnya kepada Katadata.co.id, Senin (3/8). 

Sejumlah sektor mulai menunjukkan pemulihan yang lebih kuat, seperti industri makanan dan minuman, otomotif, bahan bangunan, serta industri yang terkait dengan proyek infrastruktur dan program hilirisasi.

Di sisi lain, sektor padat karya masih menghadapi tekanan. Industri tekstil, garmen, alas kaki, serta sebagian industri yang bergantung pada pasar ekspor dinilai masih dibayangi ketatnya persaingan global, tekanan harga, dan belum pulihnya permintaan dari negara tujuan ekspor.

Menurut Erwin, prospek industri hingga akhir 2026 masih cukup optimistis apabila momentum pemulihan saat ini dapat terus dijaga. Namun, terdapat sejumlah faktor yang perlu menjadi perhatian agar ekspansi manufaktur dapat berlanjut.

Penguatan daya beli masyarakat menjadi syarat utama agar permintaan domestik tetap menjadi penopang pertumbuhan industri. Selain itu, pemerintah juga perlu menjaga kepastian kebijakan dan kemudahan berusaha untuk mendorong investasi baru maupun ekspansi kapasitas produksi.

"Kemudian stabilitas nilai tukar, inflasi, serta biaya logistik juga harus tetap dijaga agar daya saing industri nasional tidak tergerus. Di sisi lain, percepatan investasi pada sektor hilirisasi dan manufaktur bernilai tambah akan menjadi motor penting bagi pertumbuhan industri ke depan," katanya.

Lebih lanjut, Erwin menekankan bahwa keberhasilan sektor manufaktur tidak hanya diukur dari kembalinya PMI ke atas level 50. Menurutnya, indikator itu harus diikuti dengan peningkatan kinerja riil industri.

"Tetapi bagaimana ekspansi tersebut mampu diterjemahkan menjadi peningkatan utilisasi pabrik, penyerapan tenaga kerja, investasi baru, serta kenaikan daya saing produk Indonesia di pasar global," ujarnya.

Erwin optimistis sektor manufaktur dapat kembali menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional hingga akhir 2026 apabila indikator-indikator tersebut terus membaik. 

Keberlanjutan pemulihan dinilainya akan sangat bergantung pada terjaganya permintaan domestik, meningkatnya investasi, serta membaiknya daya saing industri Indonesia di pasar global.