Kalimat di Masa Kecil yang Dampaknya Masih Terasa sampai Sekarang
Ilustrasi perempuan mengenang masa kecil sambil memegang foto keluarga/www.pexels.com/jessikaarraes
Beauties, pernah nggak tanpa sadar kamu mengucapkan kalimat, "Aku memang nggak cukup baik," atau merasa bersalah setiap kali ingin mengatakan "tidak" kepada orang lain?
Banyak orang mengira sifat seperti mudah minder, sulit percaya diri, atau selalu berusaha menyenangkan orang lain muncul begitu saja ketika dewasa. Padahal, menurut psikologi, cara kita memandang diri sendiri sering kali mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak, termasuk dari kata-kata yang berulang kali kita dengar di rumah.
Kalimat yang diucapkan orang tua atau orang dewasa terdekat memang tidak selalu dimaksudkan untuk menyakiti. Sebagian besar justru lahir dari rasa sayang atau cara mendidik yang dianggap biasa pada masanya. Namun, jika terus diulang, beberapa ucapan bisa menjadi keyakinan yang tersimpan di alam bawah sadar anak dan terbawa hingga dewasa.
Melansir dari American Psychological Association (APA), pengalaman masa kecil, termasuk interaksi verbal dengan orang tua atau pengasuh, berperan penting dalam membentuk perkembangan emosional, harga diri, dan kemampuan seseorang membangun hubungan dengan orang lain.
Sementara itu, psikolog perkembangan Carol Dweck menjelaskan bahwa cara orang dewasa memberikan komentar kepada anak dapat memengaruhi cara anak melihat kemampuan dirinya sendiri. Kata-kata yang terus diulang dapat berkembang menjadi pola pikir (mindset) yang memengaruhi perilaku hingga bertahun-tahun kemudian.
Tentu saja, mendengar salah satu kalimat di bawah ini bukan berarti seseorang pasti mengalami trauma atau akan memiliki kepribadian tertentu. Namun, jika ucapan tersebut sering diulang tanpa diimbangi dukungan emosional yang sehat, dampaknya bisa tetap terasa hingga dewasa.
1. “Jangan Nangis, Kamu Kan Anak Kuat”

Anak kecil tampak menunduk setelah dimarahi oleh orang tuanya/Foto: pexels.com/NEOSiAM 2026+
Beauties, mungkin banyak dari kita pernah mendengar kalimat seperti, "Jangan nangis, nanti dibilang cengeng," atau "Kamu kan anak kuat, masa nangis?"
Sekilas, ucapan ini terdengar seperti bentuk penyemangat. Namun menurut psikologi, jika anak terus-menerus diajarkan untuk menekan emosinya, mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan kesedihan adalah sesuatu yang salah atau memalukan.
Akibatnya, saat dewasa mereka cenderung memendam masalah sendiri, merasa tidak nyaman ketika ingin menangis, atau kesulitan mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan. Tidak sedikit pula yang akhirnya memilih menyimpan semua emosi hingga berubah menjadi stres atau kelelahan mental.
Menurut American Psychological Association, kemampuan mengenali dan mengekspresikan emosi merupakan bagian penting dari perkembangan psikologis yang sehat. Anak justru perlu belajar bahwa semua emosi, termasuk sedih dan kecewa, adalah hal yang normal untuk dirasakan.
Mengajarkan anak untuk mengelola emosi tentu penting. Namun, mengelola emosi berbeda dengan memaksa mereka untuk mengabaikan atau menyembunyikannya.
2. “Coba Lihat Kakak atau Temanmu, Kok Mereka Bisa?”

Ilustrasi anak memperlihatkan hasil karyanya di kelas/Foto: pexels.com/Pavel Danilyuk
Kalimat ini mungkin menjadi salah satu yang paling sering didengar banyak anak. Tujuannya sering kali agar anak lebih termotivasi. Namun, jika terlalu sering dilakukan, dampaknya justru bisa berbeda.
Anak yang terus-menerus dibandingkan dengan saudara, teman, atau orang lain berisiko membangun harga diri yang bergantung pada pencapaian. Mereka belajar bahwa dirinya baru dianggap cukup jika mampu menyamai atau bahkan melampaui orang lain.
Akibatnya, saat dewasa mereka lebih mudah merasa tidak percaya diri, sering membandingkan hidupnya dengan orang lain, atau merasa gagal ketika melihat pencapaian teman di media sosial.
Beauties, sesekali membandingkan mungkin terdengar sepele. Namun jika menjadi kebiasaan, anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya selalu bergantung pada standar orang lain, bukan pada proses dan perkembangan dirinya sendiri.
3. “Ah, Masa Gitu Aja Nggak Bisa?”

Ilustrasi hasil karya anak/Foto: pexels.com/olia danilevich
Beauties, mungkin sebagian orang tua mengucapkan kalimat ini dengan maksud agar anak lebih semangat belajar. Namun, jika terlalu sering didengar, ucapan tersebut justru bisa membuat anak mempertanyakan kemampuannya sendiri.
Komentar yang meremehkan usaha anak dapat memengaruhi pembentukan self-esteem atau penghargaan terhadap diri sendiri. Anak menjadi lebih fokus pada ketakutan melakukan kesalahan daripada menikmati proses belajar.
Akibatnya, saat dewasa mereka cenderung mudah merasa tidak kompeten, takut mencoba hal baru, atau terus-menerus berpikir bahwa dirinya "belum cukup baik". Tidak sedikit pula yang mengalami imposter syndrome, yaitu perasaan tidak pantas atas pencapaian yang sebenarnya sudah diraih.
Karena itu, psikolog Carol Dweck menyarankan agar orang tua lebih banyak memberikan umpan balik yang membangun, misalnya dengan mengapresiasi usaha anak dan membimbing mereka mencari solusi ketika mengalami kesulitan.
4. “Anak Kecil Nggak Usah Ikut Campur”

Seorang anak terlihat diam saat ingin menyampaikan pendapat kepada orang tuanya/Foto: pexels.com/Ron Lach
Pernah mendengar kalimat seperti ini, Beauties?
Dalam situasi tertentu, orang tua memang perlu menetapkan batasan. Namun jika anak terus-menerus diberi pesan bahwa pendapatnya tidak penting, mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa suaranya tidak layak didengar.
Anak membutuhkan kesempatan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya agar belajar berkomunikasi secara sehat. Ketika orang dewasa mendengarkan dan merespons dengan baik, anak akan merasa dirinya dihargai dan memiliki nilai.
Harvard University's Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi dua arah (serve and return interaction) antara anak dan orang dewasa berperan penting dalam perkembangan otak, kemampuan berbahasa, serta keterampilan sosial dan emosional.
Sebaliknya, jika anak terbiasa dibungkam atau diabaikan, mereka bisa menjadi pribadi yang sulit menyampaikan pendapat saat rapat, enggan mengutarakan kebutuhan dalam hubungan, atau selalu takut dianggap merepotkan orang lain.
Padahal, kemampuan berkomunikasi secara asertif merupakan keterampilan yang penting untuk membangun hubungan yang sehat, baik di lingkungan kerja maupun kehidupan pribadi.
5. “Mama/Papa Melakukan Ini Demi Kamu”

Perempuan dewasa tersenyum happy/Foto: pexels.com/bertellifotografia
Kalimat ini sering diucapkan dengan niat menunjukkan pengorbanan orang tua. Namun, jika terus diulang dalam konteks yang membuat anak merasa bersalah, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa.
Anak yang terbiasa merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan atau perasaan orang tua berisiko tumbuh menjadi pribadi yang selalu mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri. Mereka lebih mudah merasa bersalah ketika menolak permintaan, sulit menetapkan batasan, dan cenderung menjadi people pleaser.
Menurut Psychology Today, kecenderungan people pleasing sering berakar dari pengalaman masa kecil yang membuat seseorang merasa harus terus memenuhi harapan orang lain agar diterima atau dicintai. Pola ini kemudian terbawa ke hubungan pertemanan, pekerjaan, maupun hubungan romantis ketika dewasa.
Beauties, bukan berarti semua ucapan orang tua pasti berdampak buruk, yang paling berpengaruh adalah pola komunikasi yang terjadi secara berulang dan bagaimana anak memaknainya.
Kabar baiknya, pengalaman masa kecil bukanlah vonis yang menentukan masa depan seseorang. Dengan mengenali pola yang terbentuk sejak kecil, kita bisa mulai membangun cara berpikir yang lebih sehat, belajar menerima diri sendiri, serta menciptakan hubungan yang lebih hangat dengan orang-orang di sekitar.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
Pilihan Redaksi
- 6 Kalimat Sederhana Orang Tua yang Bikin Anak Tumbuh Mandiri dan Kritis
- 3 Kebiasaan Orang Tua Transaksional yang Bikin Anak Menjauh
- 5 Kalimat yang Diucapkan Orang Tua kepada Anak Sebelum Tidur, Simpel tapi Bermakna
(ria/ria)