Kasus HIV Meningkat 12 Kali Lipat dalam 15 Tahun, Ini Dampaknya pada Kehamilan
Jakarta -
Kasus HIV masih menjadi perhatian di berbagai negara, termasuk pada ibu hamil. Infeksi HIV selama kehamilan tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tapi juga meningkatkan risiko penularan virus ke bayi.
Gambaran meningkatnya kasus HIV terlihat di Fiji. Negara kepulauan Pasifik tersebut baru-baru ini menetapkan status darurat nasional HIV setelah meningkatnya HIV hingga 12 kali lipat dalam 15 tahun terakhir.
Melansir Fox59.New, sekitar 9.000 orang diperkirakan hidup dengan HIV di Fiji pada 2025. Sementara itu, pejabat setempat memperkirakan sekitar satu dari 50 ibu hamil di negara tersebut hidup dengan HIV.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski angka tersebut merupakan kondisi di Fiji, kasus ini kembali mengingatkan pentingnya pencegahan, skrining, dan pengobatan HIV, terutama selama kehamilan.
Lantas, apa dampak HIV pada ibu hamil dan bayi?
Human Immunodeficiency Virus atau HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Jika pasiennya tidak mendapatkan pengobatan, infeksi HIV dapat berkembang dan menyebabkan AIDS.
Pada ibu hamil, HIV perlu mendapatkan perhatian khusus karena virus dapat ditularkan kepada bayi. Menurut MedlinePlus, penularan HIV dari ibu kepada bayi dapat terjadi selama kehamilan, saat persalinan, maupun melalui pemberian ASI. Namun, ibu yang hidup dengan HIV bukan berarti pasti melahirkan bayi dengan HIV.
Dengan pemeriksaan dan perawatan yang tepat selama kehamilan, risiko penularan HIV dari ibu kepada bayi dapat ditekan secara signifikan.
Apa dampak HIV pada kehamilan?
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), infeksi HIV dapat memengaruhi kesehatan ibu, kondisi kehamilan, dan kondisi bayi.
Bayi yang lahir dengan HIV tetapi tidak segera mendapatkan diagnosis dan pengobatan berisiko mengalami perkembangan penyakit yang cepat, terutama pada satu hingga dua tahun pertama kehidupannya. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi oportunistik dan komplikasi lainnya.
Karena itu, mengetahui status HIV selama kehamilan itu penting dalam perawatan prenatal.
Ibu hamil perlu menjalani skrining HIV
MedlinePlus menyebutkan bahwa semua ibu hamil sebaiknya menjalani tes skrining HIV bersamaan dengan pemeriksaan kehamilan lainnya.
Pada ibu hamil yang berisiko lebih tinggi, dapat dilakukan pemeriksaan kembali pada trimester ketiga sesuai pertimbangan tenaga kesehatan.
Jika ibu diketahui positif HIV, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kondisi infeksi. Pemeriksaan tersebut antara lain jumlah CD4 dan viral load, yaitu pemeriksaan untuk mengetahui jumlah virus HIV dalam darah.
Deteksi lebih awal memungkinkan ibu mendapatkan penanganan yang sesuai selama kehamilan.
Pengobatan HIV dapat membantu mencegah penularan ke bayi
HIV dapat ditangani dengan terapi antiretroviral atau ART. Obat ini bekerja dengan menghambat perkembangan virus di dalam tubuh.
Ibu hamil yang diketahui positif HIV akan mendapatkan ART selama kehamilan. Jika HIV baru diketahui menjelang persalinan, pengobatan tetap dapat segera diberikan.
Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV juga dapat diberikan terapi antiretroviral setelah lahir. Penanganan ini bertujuan menurunkan risiko bayi tertular HIV.
Dengan deteksi dan pengobatan yang tepat, risiko penularan HIV dari ibu kepada bayi dapat ditekan hingga sangat rendah.
Bayi dari ibu dengan HIV perlu menjalani pemeriksaan
Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui apakah terjadi infeksi. Menurut MedlinePlus, pemeriksaan HIV pada bayi dapat dilakukan beberapa waktu setelah kelahiran, termasuk sekitar usia 14–21 hari, 1–2 bulan, serta 4–6 bulan.
Pada bayi dengan risiko sangat tinggi, pemeriksaan juga dapat dilakukan sejak lahir.
Pemeriksaan diperlukan karena bayi yang terinfeksi HIV belum menunjukkan gejala pada bulan-bulan pertama kehidupannya.
Bunda penting juga memahami bagaimana HIV tidak menular selain mengetahui risiko penularannya.
HIV tidak menular melalui pelukan atau sentuhan biasa. Virus juga tidak menular hanya karena menyentuh benda yang sebelumnya disentuh orang yang hidup dengan HIV.
Air liur, keringat, dan air mata yang tidak bercampur dengan darah juga bukan cairan yang terbukti menularkan HIV.
Penularan HIV berkaitan dengan paparan cairan tubuh tertentu, termasuk darah, air mani, cairan vagina, dan ASI. Pemahaman ini penting agar upaya pencegahan HIV tidak disertai stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)