Kebakaran Landa Alun-alun Suryakencana-Bromo, Menhut: Ini Tidak Boleh Terjadi Lagi
Jakarta -
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melanda Alun-alun Suryakencana hingga Bromo. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan hal itu tidak boleh terjadi lagi.
Kobaran api dilaporkan melahap kawasan Alun-alun Suryakencana di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Meski kebakaran telah padam, namun seluruh jalur pendakian di gunung itu ditutup mulai 7 hingga 11 Agustus 2026.
Kebakaran yang serupa juga menghanguskan lahan hingga seluas 120 hektare di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Saat ini, dua helikopter water bombing sedang dikerahkan untuk memadamkan api.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan Presiden Prabowo Subianto sudah menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah untuk melindungi masyarakat dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi terjadi di musim kemarau.
"Perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto jelas, pemerintah siap melindungi warga negara kita dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Negara hadir untuk mencegah kebakaran hutan," kata Menhut Raja Antoni seperti dikutip Antara, Jumat (7/8/2026).
Ia mengingatkan karhutla tidak hanya merusak hutan, tetapi juga mengganggu kehidupan masyarakat. Menurutnya, karhutla dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), meliburkan sekolah, menghambat aktivitas ekonomi hingga mengganggu operasional bandara.
"Ini tidak boleh terjadi lagi," ujar Menhut.
Dia menegaskan pengendalian karhutla hanya dapat berhasil melalui kolaborasi seluruh pihak, mulai dari Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api.
"Terus jalin komunikasi dan kolaborasi yang baik. Hanya dengan kolaborasi, persoalan besar seperti karhutla dapat kita selesaikan bersama," kata Menhut Raja Antoni.
Bangun Indonesia Forest and Land Fire Management Center
Untuk mengendalikan Karhutla, Indonesia dan Korea Selatan bekerja sama dengan membangun Indonesia Forest and Land Fire Management Center di Daops Manggala Agni Sumatera XVII/OKI, Sumatera Selatan.
Pusat pengendalian karhutla ini diharapkan memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi ancaman kebakaran yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.
"Banyak inisiatif yang akan kita kerjasamakan, tapi salah satunya memang memfinalisasi Forest and Land Fire Management Center yang baru saja kita lihat ini. Mudah-mudahan nanti Park Eun-Sik (Menteri Korea Forest Service (KFS) -red) datang ke Indonesia untuk memperpanjang kerja sama, sekaligus meresmikan Forest and Land Fire Management Center yang ada di sini," kata Menhut.
Kerja sama Indonesia dan Korea di bidang pengendalian karhutla ini akan terus diperluas. Sebab, dampak kebakaran hutan tidak berhenti pada batas administrasi suatu daerah maupun negara.
Asap akibat karhutla dapat menyebar ke berbagai wilayah hingga melintasi batas negara (transboundary haze), sehingga membutuhkan kolaborasi internasional dalam upaya pencegahan dan penanganannya.
"Karena asap hasil kebakaran hutan itu tidak mengerti wilayah administratif. Kebakarannya di OKI, tapi bisa dirasakan di daerah lain, bahkan sampai luar negeri. Asap itu bisa melampaui lintas batas negara," ujarnya.
Pengalaman Indonesia sendiri dalam menghadapi karhutla terus menunjukkan perbaikan dari tahun ke tahun. Pemerintah pun menargetkan luas kebakaran hutan dan lahan tetap dapat ditekan meski tahun ini dihadapkan pada ancaman El Nino yang datang lebih cepat akibat perubahan iklim.
"Mudah-mudahan tahun ini kita bisa membuktikan bahwa meskipun El Nino datang lebih cepat, angka karhutla jauh lebih rendah dibandingkan 2023, dengan dampak yang seminimal mungkin bagi masyarakat," tutup Raja Juli.
Sementara itu, Co-Director Korea Indonesia Forest Center (KIFC), Jeong Cheol-Ho mengatakan pusat pengendalian kebakaran hutan tersebut merupakan hasil dari kolaborasi yang telah dibangun kedua negara selama lima tahun terakhir.
Menurut dia, Indonesia dan Korea Selatan selama ini saling berbagi teknologi, pengalaman, serta praktik terbaik dalam pengendalian kebakaran hutan hingga akhirnya melahirkan Indonesia Forest and Land Fire Management Center.
"Lima tahun lalu kita duduk bersama untuk mencari cara terbaik mengatasi kebakaran hutan di Indonesia. Kita berbagi ide, teknologi, dan pengalaman. Hari ini hasil dari kerja keras kita adalah Pusat Manajemen Kebakaran Hutan ini. Tapi yang lebih berharga dari fasilitas ini adalah semangat, pikiran, dan kerja sama yang ada di dalamnya," kata Jeong.
Jeong memastikan kerja sama Indonesia dan Korea di bidang pengendalian karhutla tidak berhenti tahun ini, tetapi akan terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya.
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Video Kebakaran di Suryakencana Gunung Gede, Kini Api Sudah Padam"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)