Kenali Tiga Gangguan Belajar Spesifik pada Anak, Bukan Berarti Nggak Pintar |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak yang mengalami hambatan belajar kerap dilabeli sebagai anak kurang pintar atau malas belajar. Padahal, kesulitan mengikuti pelajaran dan memperoleh nilai yang kurang baik bisa saja disebabkan oleh gangguan belajar spesifik.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDI), gangguan belajar merupakan kondisi yang cukup banyak ditemukan pada anak usia sekolah. Secara global, sekitar 5-15 persen anak usia sekolah mengalami gangguan belajar, dengan sekitar 80 persen di antaranya merupakan gangguan belajar spesifik. Sementara itu, prevalensi gangguan belajar spesifik di Indonesia hingga kini belum diketahui secara pasti.
Dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang anak, dr Farid Agung Rahmadi, menjelaskan gangguan belajar spesifik merupakan gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan anak mengalami kesulitan belajar yang bersifat menetap selama lebih dari enam bulan. Kesulitan belajar itu terjadi pada satu atau beberapa bidang akademik utama yakni membaca, menulis, dan matematika. Karena itu, gangguan belajar spesifik dapat muncul dalam bentuk kesulitan membaca, kesulitan menulis, kesulitan matematika, atau kombinasi di antaranya.
"Kondisi inilah yang membuat gangguan belajar spesifik sering kali tidak dikenali. Anak yang kesulitan membaca, menulis, atau mengerjakan matematika bisa saja hanya dianggap kurang pintar, malas, padahal pendekatan terhadap anak ini tidak cukup hanya dengan meminta mereka lebih rajin, harus ada intervensi medis khusus," kata dr Farid, beberapa waktu lalu.
Lantas apa saja jenis gangguan belajar spesifik? Pertama disleksia, yaitu gangguan belajar spesifik dengan hambatan pada kemampuan membaca. Anak dengan disleksia dapat mengalami kesulitan membedakan bunyi huruf dan mengeja.
Akibatnya, kata dr Farid, anak sering salah membaca, membaca dengan lambat, dan mudah lelah saat membaca. Kesulitan tersebut juga dapat membuat anak sulit memahami isì bacaan.
"Tapi kemampuan memahami informasi pada anak dengan disleksia dapat berjalan baik ketika cerita atau materi dibacakan oleh orang lain. Jadi anak hanya sulit memahami sesuatu ketika harus membaca," kata dr Farid.
Kedua, adalah disgrafia yaitu belajar spesifik dengan hambatan pada ekspresi tulisan. Anak dengan disgrafia dapat memiliki tulisan tangan yang sulit dibaca, tidak konsisten, atau sangat lambat.
Selain itu, mereka juga bisa mengalami kesalahan ejaan, tata bahasa dan tanda baca. Kondisi tersebut membuat anak kesulitan menyusun kalimat maupun paragraf.
"Menariknya, anak dengan disgrafia belum tentu mengalami kesulitan dalam menyampaikan gagasan. Mereka bisa memiliki ide yang bagus dan mampu memaparkannya dengan baik secara lisan. Kesulitan baru terlihat ketika anak diminta menuangkan gagasan tersebut dalam bentuk tulisan," kata dr Farid.
Sementara itu, gangguan belajar spesifik yang berkaitan dengan bidang matematika disebut diskalkulia. Anak dengan diskalkulia mengalami kesulitan memahami konsep bilangan dan operasi hitung dasar. Penambahan dan pengurangan sederhana pun dapat sering dilakukan secara keliru.