Kenapa ada orang yang tanda tangannya sederhana, ada juga yang rumit?
Jakarta (ANTARA) - Coba perhatikan tanda tangan orang-orang di sekitar. Ada yang hanya berupa beberapa garis sederhana, ada yang masih bisa dibaca seperti nama lengkap, sementara yang lain justru dipenuhi lekukan, putaran, garis bawah, bahkan coretan yang sulit ditebak.
Menariknya, semua bentuk tersebut bisa menjadi tanda tangan yang sah dan digunakan seseorang selama bertahun-tahun.
Lalu, kenapa bentuknya bisa berbeda-beda? Mengapa ada orang yang memilih tanda tangan sederhana, sementara orang lain membuatnya terlihat cukup rumit?
Jawabannya tidak sesederhana soal kepribadian. Tanda tangan merupakan hasil dari gerakan motorik yang dipelajari, kebiasaan, pengalaman dan preferensi pribadi. Dalam penelitian, produksi tanda tangan juga dipahami sebagai perilaku motorik dan kognitif yang kompleks, tetapi dilakukan secara otomatis setelah seseorang terbiasa menggunakannya.
Pada awalnya, seseorang biasanya belajar membuat tanda tangan berdasarkan nama atau bentuk tulisan yang dianggap nyaman.
Ketika masih sekolah, misalnya, seseorang mungkin membuat tanda tangan yang cukup jelas karena belum terlalu terbiasa. Setelah semakin sering menandatangani dokumen, gerakannya menjadi lebih otomatis.
Dari sinilah bentuk tanda tangan bisa berkembang. Huruf yang awalnya ditulis lengkap dapat berubah menjadi beberapa garis, sementara bagian tertentu mungkin semakin panjang atau justru hilang.
Sederhana atau rumitnya tanda tangan juga bisa berkaitan dengan seberapa efisien seseorang ingin membuatnya. Orang yang harus sering menandatangani dokumen mungkin secara tidak sadar mengembangkan bentuk yang lebih cepat dibuat.
Sebaliknya, ada pula orang yang mempertahankan banyak detail karena sudah merasa nyaman dengan pola tersebut.
Mitos seputar psikologi yang mempengaruhi
Tanda tangan memang sering dikaitkan dengan psikologi, terutama melalui grafologi. Dalam pendekatan ini, bentuk tulisan atau tanda tangan dianggap dapat memberikan gambaran mengenai karakter seseorang.
Misalnya, tanda tangan yang besar, kecil, miring, memiliki banyak hiasan atau garis bawah kerap diberi interpretasi tertentu.
Namun, bagian ini perlu disikapi hati-hati.
Penelitian yang menguji hubungan antara analisis tulisan tangan dan kepribadian belum memberikan bukti yang cukup kuat. Salah satu penelitian yang membandingkan hasil analisis grafologi dengan tes kepribadian Big Five tidak menemukan kemampuan yang meyakinkan dari grafologi untuk mengukur ciri kepribadian.
Baca juga: Kenapa tanda tangan bisa berubah seiring waktu? Ini faktanya
Baca juga: Mengapa tanda tangan tidak boleh sembarangan diberikan?
Artinya, kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang yang memiliki tanda tangan rumit pasti lebih percaya diri, lebih ambisius, lebih dominan atau lebih kreatif dibandingkan orang dengan tanda tangan sederhana.
Begitu juga sebaliknya. Tanda tangan yang sederhana tidak otomatis menunjukkan seseorang pendiam atau tidak percaya diri.
Lantas, apa pengaruh psikologinya?
Psikologi lebih masuk akal digunakan untuk memahami mengapa seseorang memilih dan mempertahankan pola tertentu, bukan untuk menebak kepribadiannya hanya dari bentuk tanda tangan.
Seseorang bisa menyukai tanda tangan yang sederhana karena mudah diingat dan cepat dibuat. Orang lain mungkin merasa bentuk yang lebih dekoratif lebih sesuai dengan identitas dirinya.
Ada pula unsur pengalaman. Jika sejak remaja seseorang terbiasa membuat tanda tangan dengan bentuk tertentu, pola tersebut akan semakin otomatis dan terasa natural.
Dalam konteks ini, tanda tangan dapat menjadi bagian dari kebiasaan motorik sekaligus bentuk ekspresi personal. Namun, ekspresi personal tersebut tidak sama dengan bukti ilmiah mengenai sifat atau kepribadian seseorang.
Ada anggapan bahwa tanda tangan yang banyak lekukan atau hiasan sengaja dibuat agar terlihat lebih berkelas atau sulit ditiru.
Bisa saja seseorang memang mempunyai alasan tersebut. Namun, tidak selalu demikian.
Bentuk rumit dapat terbentuk karena kebiasaan. Ketika seseorang berulang kali melakukan gerakan yang sama, beberapa bagian tulisan dapat berkembang menjadi lebih cepat, lebih panjang atau lebih berliku.
Hal serupa terjadi pada tulisan tangan. Kita mungkin sudah tidak sadar bagaimana cara membentuk setiap huruf karena tangan telah "menghafal" gerakannya.
Tanda tangan bekerja dengan cara yang kurang lebih sama. Setelah digunakan berkali-kali, seseorang tidak perlu lagi memikirkan setiap garis yang harus dibuat.
Kondisi saat menulis juga bisa berpengaruh
Tanda tangan seseorang pun tidak selalu sama setiap kali dibuat.
Ketika terburu-buru, misalnya, tanda tangan bisa menjadi lebih pendek dan sederhana. Ketika sedang santai, beberapa bagian mungkin terlihat lebih lengkap.
Tekanan pena, kecepatan gerakan dan koordinasi tangan juga dapat menghasilkan variasi. Karena itu, dalam pemeriksaan dokumen, perbedaan kecil antara tanda tangan dari orang yang sama merupakan sesuatu yang perlu diperhitungkan.
Penelitian mengenai tanda tangan menunjukkan bahwa tanda tangan seseorang memang memiliki variasi alami, meskipun pola dasarnya tetap dapat bertahan dari waktu ke waktu.
Jadi, mana yang lebih baik, sederhana atau rumit?
Tidak ada bentuk yang lebih baik hanya berdasarkan tingkat kerumitannya.
Tanda tangan sederhana bisa lebih praktis dan cepat dibuat, sedangkan tanda tangan yang lebih rumit mungkin terasa lebih personal bagi pemiliknya. Yang terpenting adalah seseorang memiliki pola tanda tangan yang dapat dikenali dan digunakan secara konsisten untuk kebutuhan yang memerlukannya.
Jadi, kalau tanda tangan Anda hanya berupa beberapa garis, tidak berarti ada sesuatu yang kurang dari diri Anda. Begitu pula jika tanda tangan Anda penuh dengan putaran dan garis yang membuat orang lain kesulitan membacanya.
Pada akhirnya, tanda tangan lebih banyak bercerita tentang kebiasaan gerak dan pilihan personal seseorang daripada menjadi "cermin" yang bisa digunakan untuk membaca kepribadian secara akurat.
Baca juga: Asal usul tanda tangan dan bagaimana sejarahnya
Baca juga: Benarkah tanda tangan bisa mengungkap kepribadian? Ini faktanya
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.