Bagikan:

JAKARTA - Kepala badan nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Hari Kamis mengecam pembunuhan kepala insinyur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina yang diduduki Rusia dalam serangan pesawat tak berawak, yang tidak ada pihak yang mengklaimnya.

Rusia menyalahkan Ukraina atas kematian ini, tetapi Kyiv menggambarkan tuduhan tersebut sebagai "tidak berdasar" dan mengatakan Moskow gagal memberikan bukti.

Kepala perusahaan nuklir raksasa Rusia Rosatom, Alexei Likhachev, mengatakan pada Hari Rabu, Aleksandr Yakovlev meninggal ketika "sebuah pesawat tak berawak milik angkatan bersenjata Ukraina" menabrak kendaraan servis di dekat pembangkit listrik yang menjadi titik konflik.

Kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi "mengutuk insiden yang dilaporkan yang menurutnya merupakan serangan yang tidak dapat diterima terhadap pembangkit dan manajemennya, yang secara serius mengancam keselamatan nuklir," demikian pernyataan badan tersebut di X, melansir Al Arabiya dari AFP (17/7).

"IAEA menyerukan penghentian segera semua serangan terhadap atau di dekat lokasi nuklir dan stafnya," tambahnya.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mendesak badan tersebut untuk mengutuk dugaan "pembunuhan" tersebut.

Likhachev mengatakan dalam unggahan di akun Telegram Rosatom bahwa Yakovlev "mendedikasikan seluruh hidupnya untuk energi nuklir dan dia meninggal, pada kenyataannya, di pos tempurnya."

Seorang pengemudi juga tewas dalam serangan itu, katanya.

Akun Telegram dari pembangkit listrik dan Rosatom sebelumnya tidak pernah menyebutkan Yakovlev.

Biasanya, direktur pembangkit listrik yang ditunjuk Moskow, Yuri Chernichuk, mantan kepala insinyur di pembangkit listrik tersebut, berbicara di depan umum.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Ukraina menolak klaim tersebut.

"Tidak ada konfirmasi independen atas versi Rusia atau bukti keterlibatan Ukraina yang telah disajikan, dan informasi dari struktur pendudukan Rusia tidak dapat dianggap dapat diandalkan," tulisnya.

BACA JUGA:


Diketahui, pasukan Rusia merebut pembangkit listrik Zaporizhzhia pada Maret 2022, tak lama setelah invasi skala penuh Moskow ke Ukraina.

Pembangkit listrik tersebut adalah yang terbesar di Eropa dan keamanannya telah menjadi sumber kekhawatiran yang berulang selama konflik yang berkepanjangan.

Baik Moskow maupun Kyiv secara teratur saling menuduh melakukan serangan di lokasi tersebut, yang terletak di Enerhodar, di tepi Sungai Dnipro, yang menandai garis depan di daerah tersebut.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+