Warta Ekonomi, Jakarta -

Menjelang pemilu sela Kongres Amerika Serikat pada November, cara Pemerintah Trump mengelola tekanan ekonomi mulai menampakkan pola yang semakin jelas. Ketegangan dengan Iran, kebijakan terhadap yen, pengelolaan pasar obligasi pemerintah AS, serta kondisi yang dihadapi Federal Reserve tidak lagi dapat dilihat sebagai perkembangan yang berdiri sendiri.

Geopolitik, energi, dan pasar keuangan semakin terkait dengan upaya menjaga kondisi ekonomi domestik AS tetap stabil menjelang pemungutan suara.

Iran dan Inflasi dari Luar Negeri

Lapisan pertama datang dari geopolitik energi.

Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam sistem energi global. Setiap eskalasi dapat langsung memengaruhi harga minyak, lalu merambat ke bensin, diesel, transportasi, pangan, dan akhirnya inflasi.

Kebijakan terhadap Iran karena itu tidak hanya memiliki dimensi keamanan dan geopolitik. Dampaknya juga langsung terasa pada ekonomi domestik AS.

Trump cenderung menggunakan eskalasi untuk menciptakan tekanan dan daya tawar, kemudian mencari ruang negosiasi ketika tujuan politik mulai dapat dicapai atau biaya ekonominya menjadi terlalu tinggi.

Jika ketegangan dengan Iran turun, risiko gangguan di Hormuz ikut berkurang. Harga minyak dapat mereda dan tekanan terhadap inflasi ikut melemah.

Dengan kata lain, kebijakan terhadap Iran juga dapat berfungsi sebagai kebijakan terhadap inflasi. Menjelang November, hal ini semakin penting karena harga energi merupakan salah satu komponen biaya hidup yang paling cepat dirasakan masyarakat.

Bessent dan Biaya Pinjaman Jangka Panjang

Lapisan kedua berada di tangan Menteri Keuangan Scott Bessent.

Bessent tidak mengendalikan suku bunga Federal Reserve. Ia juga tidak dapat memerintahkan pasar menerima imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih rendah. Yang dapat dilakukannya adalah mencegah tekanan tambahan membuat biaya pembiayaan semakin mahal.

Itulah konteks penting dari perhatian Departemen Keuangan AS terhadap yen dan Jepang.

Pelemahan yen yang terlalu cepat dapat memaksa investor membongkar posisi secara besar-besaran, mengubah aliran dana investor Jepang, dan pada akhirnya menekan pasar obligasi pemerintah AS. Jepang tetap menjadi salah satu sumber modal penting bagi pasar obligasi global.

Karena itu, intervensi terhadap yen tidak seharusnya dilihat hanya sebagai upaya menolong Jepang. Dari sudut pandang Washington, menjaga penyesuaian yen tetap tertib juga berarti mengurangi risiko penjualan paksa obligasi AS dan kenaikan biaya pinjaman di Amerika.

Sesudah tekanan awal terhadap yen berhasil diredam, Bessent justru mendorong Bank of Japan melakukan normalisasi kebijakan secara lebih tegas.

Sekilas, hal ini terlihat paradoks. Suku bunga Jepang yang lebih tinggi membuat obligasi pemerintah Jepang lebih menarik dan dapat mengurangi minat investor Jepang membeli obligasi luar negeri. Namun, sebenarnya ini lebih merupakan pilihan antara dua risiko.

Washington tampaknya lebih memilih penyesuaian portofolio yang berlangsung bertahap daripada penjualan paksa dalam suasana panik.

Bessent juga semakin aktif menggunakan instrumen pasar obligasi AS, termasuk pembelian kembali obligasi pemerintah untuk menjaga kelancaran pasar, terutama pada obligasi berjangka panjang. Tujuannya bukan menetapkan tingkat bunga tertentu, melainkan mencegah masalah likuiditas dan gejolak pasar menambah tekanan terhadap biaya pinjaman.

Intinya, Bessent mencoba mencegah gejolak di Jepang atau pasar obligasi menular menjadi biaya pembiayaan yang lebih mahal di Amerika.

Fed Tetap Menjadi Kendala Utama

Masalah berikutnya berada di luar kendali Pemerintah, sekaligus menjadi salah satu kunci terpenting.

Data tenaga kerja terbaru menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat. Pada Agustus, nonfarm payroll bertambah 162.000 pekerjaan, sementara tingkat pengangguran tetap 4,1%. Angka tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja belum cukup lemah untuk memberi Federal Reserve alasan kuat melakukan pelonggaran.

Hal itu baik bagi pertumbuhan dan secara politik membantu Pemerintah. Namun, dari sisi kebijakan moneter justru menambah komplikasi.

Jika ekonomi tetap kuat sementara inflasi belum turun cukup cepat, Fed tidak mempunyai banyak alasan untuk menurunkan suku bunga. Bahkan, kemungkinan kenaikan lebih lanjut tetap ada.

Trump dan Bessent sebenarnya tidak harus memaksa Fed menurunkan suku bunga. Upaya seperti itu justru dapat merusak kredibilitas bank sentral dan memicu reaksi pasar yang berlawanan.

Yang mereka perlukan adalah kondisi yang memungkinkan Fed setidaknya tidak memperketat kebijakan lebih lanjut. Jika harga minyak turun, ekspektasi inflasi mereda, pasar obligasi AS lebih stabil, dan tidak terjadi gejolak besar dari Jepang maupun pasar global, Fed mempunyai ruang lebih besar untuk menahan suku bunga.

Fed bukan bagian dari strategi Pemerintah. Namun, Pemerintah dapat mencoba mengubah kondisi ekonomi dan keuangan tempat Fed mengambil keputusan.

Tekanan terhadap imbal hasil obligasi AS akan lebih besar apabila yen mengalami gejolak pada saat harga minyak melonjak. Kondisi seperti itu dapat memperburuk ekspektasi inflasi dan membuat Fed semakin sulit menahan suku bunga.

Jika Fed kembali harus mengetatkan kebijakan, bunga KPR, kredit kendaraan, dan biaya pinjaman lainnya dapat tetap tinggi atau meningkat. Dampaknya langsung dirasakan rumah tangga kelas menengah.

Sebaliknya, jika energi stabil, pasar keuangan tertib, dan ekspektasi inflasi terjaga, biaya hidup dan biaya pembiayaan setidaknya tidak melonjak menjelang November.

Yang terlihat bukan satu grand design yang mudah dibuktikan, melainkan sejumlah kebijakan yang semakin mengarah pada kepentingan domestik yang sama.

Trump mengelola sumber inflasi dari luar negeri melalui geopolitik dan energi. Bessent berusaha mencegah gejolak itu menular ke pasar obligasi dan biaya pinjaman jangka panjang. Fed kemudian menghadapi kondisi yang, jika inflasi memungkinkan, memberi ruang untuk tidak memperketat kebijakan lebih jauh.

Gajah Besar yang Belum Disentuh

Namun, semua upaya tersebut tetap bertumpu pada satu persoalan yang belum berubah: defisit fiskal Amerika yang sangat besar.

Pemerintah terus membelanjakan jauh lebih banyak daripada penerimaannya sehingga harus menerbitkan utang dalam jumlah besar. Defisit memang bukan satu-satunya penyebab tingginya imbal hasil obligasi. Inflasi, kebijakan Fed, harga energi, dan kondisi pasar global juga berperan. Namun, kebutuhan pembiayaan yang sangat besar membuat setiap tekanan tambahan menjadi lebih sulit diserap.

Di sinilah batas strategi tersebut.

Trump dapat menurunkan risiko geopolitik, Bessent dapat menjaga pasar obligasi lebih tertib, dan Fed dapat menahan suku bunga jika inflasi memungkinkan. Semua itu dapat meredam tekanan untuk sementara, tetapi tidak mengubah persoalan dasarnya: Pemerintah tetap membutuhkan dana dalam jumlah sangat besar.

Karena itu, pertanyaan setelah November akan berbeda. Jika Washington mulai memperbaiki arah fiskalnya, strategi sekarang dapat dilihat sebagai upaya membeli waktu sampai kondisi politik memungkinkan penyesuaian yang lebih sulit. Jika tidak, de-eskalasi geopolitik dan pengelolaan pasar keuangan pada akhirnya hanya akan menunda masalah yang sama.

Yang sedang dilakukan Washington mungkin berhasil membeli waktu. Pertanyaannya adalah apakah setelah November waktu itu akan digunakan untuk menghadapi persoalan fiskal—atau kembali digunakan untuk menundanya.