Ketua DPD Puji Prabowo-Gibran, Sebut Kompak Perkuat Martabat Bangsa
Jumat, 14 Agustus 2026 - 10:38 WIB
Jakarta, VIVA – Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin memberikan apresiasi terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Baca Juga
Menurut Sultan, keduanya mampu bekerja kompak dan saling melengkapi dalam menjalankan pemerintahan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pernyataan itu disampaikan Sultan saat menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.
Baca Juga
Sultan menilai kekompakan Prabowo-Gibran menjadi salah satu modal penting dalam upaya memperkuat posisi dan martabat Indonesia.
“DPD RI menyampaikan apresiasi yang tulus kepada pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming, yang secara kompak dan saling melengkapi dalam menegakkan martabat bangsa,” kata Sultan.
Baca Juga
Selain kepemimpinan nasional, Sultan juga menyoroti berbagai kebijakan pemerintah yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia. Menurutnya, langkah tersebut semakin penting di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Apresiasi atas berbagai program yang berorientasi pada kemandirian ekonomi nasional, di tengah ketidakpastian dinamika geopolitik dunia,” ujarnya.
Sultan secara khusus mengapresiasi langkah Prabowo dalam memperkuat kembali peran negara dalam pengelolaan sumber daya alam. Dia menyebut kebijakan tersebut sejalan dengan amanat konstitusi.
“Presiden Prabowo telah membuat langkah strategis untuk mengembalikan penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan alam demi kemakmuran rakyat. Sesuai amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” tuturnya.
Menurut Sultan, perubahan dalam perekonomian nasional memang tidak selalu mudah. Dia mengibaratkan proses transformasi tersebut seperti upaya mencabut duri yang sudah lama tertancap.
“Mencabut duri tentu tidak nyaman. Ada rasa perih, bahkan sedikit pendarahan. Namun, selama duri itu tetap tertancap, luka tidak akan pernah benar-benar sembuh,” ujarnya.
Sultan kemudian menyinggung sejumlah persoalan yang dinilai masih menjadi tantangan bagi daya saing ekonomi Indonesia. Di antaranya ketergantungan terhadap impor, rendahnya nilai tambah sumber daya alam, praktik under invoicing, transfer pricing, hingga inefisiensi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dia menilai pemerintah perlu berani mengambil keputusan strategis untuk membenahi persoalan tersebut.
“Transformasi ekonomi menuntut keberanian mengambil keputusan yang tidak mudah demi memperkuat fondasi ekonomi nasional dan mewujudkan Indonesia yang lebih berdaulat, maju, dan berdaya saing,” katanya.
Halaman Selanjutnya
Lebih lanjut, Sultan menilai sejumlah program pemerintah tidak berdiri sendiri. Berbagai program tersebut, menurut dia, membentuk sistem kebijakan yang saling berkaitan.