Kilang Plaju dorong kemandirian petani rawa lebak Sungai Rebo

Jumat, 16 Oktober 2026 20:14 WIB

Image Print

Petani rawa lebak di Desa Sungai Rebo, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang mendapatkan pendampingan Kilang Plaju. (ANTARA/HO/RU3)

Palembang (ANTARA) - PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) III (Kilang Plaju), Palembang, Sumatera Selatan, berkomitmen menjaga keberlanjutan ekonomi dan kemandirian petani rawa lebak di Desa Sungai Rebo, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU III Plaju, Siti Fauzia di Palembang, Jumat, mengatakan komitmen tersebut diwujudkan seiring dengan dimasukinya tahap exit program pada 2026 dari Program Pemberdayaan Mina Padi yang telah diinisiasi sejak 2022.

Sebagai langkah keberlanjutan, masa pendampingan program kini diserahterimakan secara bertahap kepada Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Banyuasin I.

Program Mina Padi mengintegrasikan budi daya padi dengan perikanan dan peternakan di lahan rawa pasang surut. Inovasi ini dirancang guna meningkatkan resiliensi petani terhadap dampak perubahan iklim, seperti anomali cuaca, banjir, dan kekeringan, yang sebelumnya membatasi frekuensi tanam menjadi hanya satu kali dalam setahun.

Dalam pelaksanaannya, program ini membina empat kelompok lokal, yakni Kelompok Tani Jaya Bersama, Kelompok Tani Bina Tani Berkah, UMKM Andong Jaya, dan Kelompok Ternak Talang Bali. Tiga strategi utama yang diterapkan meliputi diversifikasi usaha, penerapan pertanian ramah lingkungan dan rendah karbon, serta penguatan kapasitas adaptasi masyarakat terhadap ketidakpastian hidrologi.

Dampak positif dari program ini mencakup peningkatan frekuensi tanam menjadi dua kali setahun, lonjakan produksi gabah dari 4 ton menjadi 7 ton per tahun, serta penurunan penggunaan pupuk kimia hingga 20 persen. Selain itu, para petani memperoleh sumber pendapatan baru dari usaha olahan telur asin sebesar Rp2,4 juta per bulan dan budi daya ikan mencapai Rp5,6 juta per siklus enam bulan. Secara keseluruhan, program ini memberikan manfaat langsung kepada 116 penerima manfaat.

Petani rawa lebak di Desa Sungai Rebo, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang mendapatkan pendampingan Kilang Plaju. (ANTARA/HO/RU3)

Ia mengatakan pencapaian tersebut menunjukkan kesiapan masyarakat Desa Sungai Rebo untuk mengelola pertanian secara mandiri.

“Kami bangga melihat para petani kini memiliki diversifikasi pendapatan serta lahan yang lebih produktif. Hal ini menjadi modal utama mereka dalam menghadapi tantangan perubahan iklim secara berkelanjutan,” ujar Fauzia di Banyuasin.

Ia menambahkan, exit program bukan berarti Pertamina melepaskan tanggung jawab sosialnya, melainkan menandai kemandirian kelompok binaan yang kini didukung oleh penyuluh pertanian daerah. Pengalaman sukses di Desa Sungai Rebo tersebut juga mulai direplikasi ke Dusun IV Talang Bali.

“Pendampingan teknis dilanjutkan oleh Balai Penyuluhan Pertanian, sementara model sukses di Sungai Rebo kami perluas ke Dusun IV Talang Bali agar cakupan manfaatnya kian luas,” tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Kelompok Tani Bina Tani Berkah, Abdul Fatih, mengapresiasi intervensi program dari Pertamina yang dinilainya mampu mengubah pola pikir dan kapasitas adaptasi petani lokal.

“Kami tidak bisa lagi bertani dengan cara lama atau sekadar pasrah menghadapi perubahan iklim. Berkat dukungan Pertamina, kami mampu beradaptasi dan melakukan mitigasi sehingga produktivitas serta kesejahteraan anggota meningkat nyata,” kata Abdul.

Melalui keberlanjutan Program Mina Padi, Kilang Pertamina Plaju berharap kawasan rawa lebak di Kabupaten Banyuasin mampu menjadi percontohan pertanian adaptif yang mandiri dan berdaya saing, sejalan dengan komitmen perusahaan dalam memperkuat kolaborasi pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Pewarta: Pewarta Sumsel
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026