REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG — Indeks Kualitas Air (IKA) Sungai Citarum yang sempat menembus angka 52 kini berada di level 48. Penurunan tersebut menjadi perhatian di tengah upaya pemerintah menjaga keberlanjutan program Citarum Harum setelah berakhirnya masa berlaku Perpres Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat Daddy Rohanady menilai kondisi tersebut menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan untuk memastikan Citarum benar-benar menjadi sungai yang bersih dan terjaga. Menurut dia, upaya menjaga kualitas sungai tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah namun membutuhkan perubahan perilaku masyarakat.

“Citarum tentu kita tidak ingin Citarum seperti ini. Kita pengen Citarum harum beneran, menjadi sebuah sungai legendaris Jawa Barat yang betul-betul bagus. Tapi faktanya kan banyak PR,” ujar Daddy, Selasa (15/9/26) sore.

Ia mengatakan, persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan utama di sepanjang aliran Sungai Citarum. Padahal, penanganan Citarum selama ini telah mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerahn

“Kita sudah dibantu pusat, lagi-lagi tetap aja penuh dengan sampah,” katanya.

Daddy pun mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Menurut dia, persoalan tersebut harus ditangani sejak dari sumbernya, terutama dari lingkungan rumah tangga.

“Saya titipkan lewat forum ini, lewat media, mudah-mudahan disuarakan juga: jangan jadikan sungai sebagai tempat sampah terbesar,” ujar dia.

Ia mendorong masyarakat mulai memilah sampah dari rumah masing-masing. Sampah yang masih memiliki nilai guna, kata dia, dapat dimanfaatkan melalui penerapan prinsip 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle.

“Kalau di dalam mindset kita bahwa sampah bisa didayagunakan, lihat 3R-nya, mana yang bisa recycle, mana reuse. Itu saya kira yang bisa kita lakukan,” katanya.

Daddy menilai perubahan harus dimulai dari kebiasaan sederhana di tingkat rumah tangga. Dengan demikian, sampah yang selama ini berpotensi masuk ke sungai dapat dikurangi sejak dari sumbernya.

“Karena masing-masing berangkat dari rumah kita sendiri,” ujar dia.