Jakarta (ANTARA) - Di tengah pertumbuhan outstanding fintech lending yang mencapai Rp105,14 triliun per Juni 2026, sebagaimana tercatat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK),

Kredit Pintar melihat masa depan industri bukan hanya tentang memperluas akses pembiayaan, tetapi juga membantu masyarakat mengambil keputusan finansial secara bertanggung jawab.

Presiden Direktur Kredit Pintar, Ronny Kasim dalam keterangannya, Minggu mengatakan memberikan akses pembiayaan adalah satu bagian dari peran kami.

Namun, peran yang lebih besar adalah membantu masyarakat memahami kapan mereka membutuhkan pendanaan, menentukan jumlah yang sesuai dengan kemampuan, dan tetap memiliki kendali sampai kewajibannya terpenuhi. Inilah yang kami maksud dengan Kredit Pintar sebagai Teman Atur Uang.

Pertumbuhan industri menunjukkan semakin besarnya peran pendanaan digital dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, akses tersebut perlu diikuti pemahaman yang baik agar masyarakat dapat menjaga arus kas dan memenuhi kewajibannya secara bertanggung jawab.

Sebagai platform pinjaman daring yang berlisensi dan diawasi OJK, Kredit Pintar mendorong pendekatan tersebut melalui “Teman Atur Uang”.

Pendekatan ini menempatkan Kredit Pintar bukan sekadar sebagai penyedia akses pendanaan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan pengguna dalam mengelola kebutuhan finansial secara lebih bijak dan bertanggung jawab.

Peran tersebut kemudian diterjemahkan Kredit Pintar melalui tiga prinsip dalam perjalanan finansial pengguna, yaitu Jaga Cash Flow, Pahami & Pilih, dan Tetap Terkontrol. Jaga Cashflow berarti membantu pengguna menyesuaikan pendanaan dengan kebutuhan dan kemampuan.

Pahami & Pilih berarti menyediakan informasi yang jelas agar pengguna dapat memahami konsekuensi dan menentukan pilihan secara tepat. Sementara Tetap Terkontrol berarti membantu pengguna mengelola kewajibannya secara bertanggung jawab hingga pendanaan terselesaikan.

Ketiga peran tersebut menjadi bagian dari penerapan prinsip responsible lending yang berjalan beriringan dengan upaya memperluas akses pembiayaan dan menjaga kualitas pertumbuhan bisnis.

Dengan pendekatan ini, pertumbuhan tidak hanya dilihat dari seberapa besar pembiayaan yang disalurkan, tetapi juga dari bagaimana pendanaan diberikan secara tepat dan pengguna tetap memiliki kendali sepanjang perjalanan finansialnya.

Hal tersebut sejalan dengan pandangan Irgo Bachtiar, Head of Business and Operations Kredit Pintar, yang disampaikan dalam sesi diskusi Fintech Lending Days 2026, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) pada 20–21 Agustus 2026 di Denpasar, Bali.

Dalam sesi talkshow pada 21 Agustus, Irgo menjelaskan bahwa pertumbuhan bisnis, perluasan akses pembiayaan, dan prinsip responsible lending perlu dibangun secara beriringan.

“Memperluas akses pembiayaan tidak berarti menurunkan kualitas kredit. Kami justru memanfaatkan data dan teknologi untuk memahami kondisi serta kemampuan setiap customer dengan lebih baik, sehingga pendanaan dapat diberikan secara lebih tepat. Pada saat yang sama, responsible lending juga berarti memberikan responsible treatment, termasuk melalui pendekatan collection yang lebih relevan dan empatik,” ujar Irgo.

Menurut Irgo, pertumbuhan bisnis tidak cukup diukur dari nilai atau value penyaluran. Kualitas pertumbuhan juga perlu dilihat dari bagaimana perusahaan dapat mempertanggungjawabkan pembiayaan yang diberikan dan membantu customer tetap memiliki kendali sepanjang perjalanan finansialnya.

“Karena itu, responsible borrowing tidak berhenti pada keputusan saat seseorang mengambil pendanaan, tetapi mencakup seluruh perjalanan pengguna, mulai dari memahami kebutuhan dan kemampuan sebelum pendanaan hingga menyelesaikan kewajibannya,” lanjut Irgo.

Dalam perjalanan tersebut, transparansi menjadi salah satu fondasi penting. Informasi mengenai biaya, tenor, jumlah pembayaran, tanggal jatuh tempo, dan total kewajiban perlu disampaikan secara jelas agar masyarakat memahami konsekuensi dari keputusan pendanaan dan dapat menyesuaikannya dengan kemampuan finansial masing-masing.


Pandangan tersebut menjadi bagian dari diskusi dalam Fintech Lending Days 2026, yang mempertemukan industri, regulator, dan pelaku ekosistem fintech lending.

Forum ini menjadi momentum untuk melihat perkembangan industri tidak hanya dari sisi pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari bagaimana industri dapat memberikan manfaat yang lebih besar dan bertanggung jawab bagi masyarakat.

“Masa depan pendanaan digital bukan hanya tentang seberapa mudah seseorang mendapatkan akses pembiayaan. Masa depan industri juga ditentukan oleh seberapa baik kita membantu masyarakat memahami keputusan finansialnya, meminjam sesuai kemampuan, dan tetap terkendali sampai kewajibannya terpenuhi. Ini adalah tanggung jawab yang perlu kita bangun bersama sebagai industri,” ujar Ronny.

Melalui “Teman Atur Uang”, Kredit Pintar ingin mendorong pergeseran dari sekadar access to financing menuju responsible financial decision-making, dengan menempatkan akses, pemahaman, dan kendali sebagai tiga fondasi penting dalam perjalanan pendanaan masyarakat.

Kredit Pintar sebagai platform pinjaman daring yang berlisensi dan diawasi oleh OJK hingga saat ini telah diunduh lebih dari 36 juta kali, dengan rating 4,3 di Google Play Store dan 4,4 di Apple App Store, serta lebih dari dua juta ulasan pengguna di Indonesia.

Sepanjang tahun 2025, Kredit Pintar telah membukukan penyaluran pinjaman lebih dari Rp 9,5 triliun. Sejak berdiri pada 2017, total akumulasi pinjaman yang telah disalurkan mencapai lebih dari Rp 66 triliun, hal ini mencerminkan kepercayaan masyarakat sekaligus tanggung jawab perusahaan dalam menghadirkan akses pembiayaan yang inklusif dan dikelola secara bertanggung jawab.

Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.