Legislator Jambi desak aparat berantas PETI dekat bandara Bungo - ANTARA News Jambi
Kota Jambi (ANTARA) - Legislator Provinsi Jambi mendesak aparat penegak hukum memberantas aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) dekat bandar udara (Bandara) Bungo, karena hingga saat ini masih marak di kawasan tersebut.
"Kita sangat menyayangkan kenapa ada aktivitas tambang di wilayah bandara. Aparat diminta bertindak tegas untuk menertibkan," kata Anggota DPRD Provinsi Jambi Hambali di Kota Jambi, Jumat.
Ia menyoroti, jika aktivitas pertambangan di kawasan bandara dibiarkan berlarut-larut bisa berdampak buruk jangka panjang.
Selain di sekitar kawasan bandara, aktivitas pertambangan ilegal tersebut banyak dijumpai di sejumlah lokasi, terutama didekat aliran sungai.
Akibatnya, sejumlah aliran Sungai Batang Bungo, Batang Tebo yang ada di Kabupaten Bungo menjadi tercemar, sehingga merugikan masyarakat yang masih bergantung dari sumber air tersebut.
Untuk itu, Hambali mendesak aparat penegak hukum betul-betul konsisten menjalankan aturan yang berlaku di negara ini, supaya kerusakan alam tidak semakin parah.
"Air masih digunakan oleh masyarakat untuk mandi, mencuci bahkan untuk konsumsi air minum. Pertambangan itu sudah jelas aturan hukumnya, kenapa pihak aparat tidak gencar dalam melakukan pemberantasan" tegasnya.
Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris telah menginstruksikan kepada Bupati Bungo agar melakukan penertiban pertambangan emas tanpa izin (PETI) di sekitar kawasan bandara.
Hanya saja upaya itu tidak mudah. Untuk itu ia mendorong kepala daerah dan pihak penegak hukum betul-betul serius melakukan upaya penertiban aktivitas tambang ilegal, di Kabupaten Bungo dan wilayah lainnya yang ada di Provinsi Jambi.
"Saya sudah minta Bupati Bungo tidak ada PETI di sana, karena dari atas terlihat saat pesawat akan turun. Kadang oknum masyarakat yang diam diam ini susah juga, tau taunya sudah banyak," kata gubernur.
Direktur KKI Warsi Adi Junedi menyampaikan, kegiatan penambangan emas tanpa izin di Jambi diperkirakan telah menggerus lahan hingga enam ribu hektare.
"Kami mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menjalankan peran sebagai penjaga bumi, guna menjaga keseimbangan alam," ajak Adi.
Pewarta: Agus Suprayitno
Editor : Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.