Lewat Gamas, ayah berperan penting bagi anak berkebutuhan khusus - ANTARA News Gorontalo
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan pentingnya peran ayah bagi anak berkebutuhan khusus lewat Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (Gamas).
Melalui Surat Edaran (SE) Mendukbangga/Kepala BKKBN Nomor 17 tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (Gemar) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (Gamas), Kemendukbangga/BKKBN, Wihaji mengapresiasi Kementerian PAN-RB yang telah mengeluarkan surat dukungan kepada kementerian dan lembaga agar memberikan dispensasi kepada para ayah yang terlambat bekerja karena mengantar anak ke sekolah.
"Surat dukungan tersebut dikeluarkan untuk menegaskan bahwa keterlambatan ayah yang masuk ke tempat kerja tidak boleh menjadi alasan pemotongan gaji. Hari ini, saya senang dapat berkunjung ke SLB Negeri 2 Jakarta untuk melihat Gamas, karena kunci utama dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus adalah kesabaran. Untuk itu, ayah perlu terlibat aktif dalam pengasuhan sebagai bagian dari membangun generasi penerus bangsa," kata Wihaji di Jakarta, Senin.
Ia menyebutkan, jumlah penduduk di Indonesia saat ini mencapai 278 juta dengan 74 juta keluarga. Sekitar 46 juta keluarga memiliki anak usia 10-24 tahun, dan di antara keluarga tersebut terdapat mereka yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan memerlukan perhatian lebih.
"Anak berkebutuhan khusus bukanlah anak yang memiliki kelemahan, melainkan anak-anak hebat yang memiliki kelebihan yang belum sepenuhnya ditemukan. Kami mengapresiasi guru-guru yang terus berusaha menggali potensi mereka. Saya juga yakin bahwa orang tua anak berkebutuhan khusus juga merupakan orang-orang hebat karena memiliki kesabaran dan ketangguhan luar biasa," ujar dia.
Wihaji juga menyampaikan bahwa berdasarkan pendataan keluarga, sekitar 25 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless, yaitu kehilangan figur ayah dalam pengasuhan meskipun ayah masih ada. Hal tersebut terjadi karena ayah terlalu fokus mencari nafkah sehingga kurang mengenal kehidupan sekolah dan perkembangan anak.
"Ayah tetap perlu terlibat aktif dalam pengasuhan sebagai bagian dari membangun generasi penerus bangsa. Jangan sampai telepon genggam atau handphone menjadi 'orang tua baru' karena anak-anak kita ini menghabiskan sekitar 8–10 jam setiap hari bersama gawai," ujarnya.
Ia mengingatkan, penggunaan handphone sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak, termasuk anak berkebutuhan khusus yang memerlukan perhatian lebih besar.
"Ayah perlu tetap mengobrol dengan anak, ajak mereka berdiskusi minimal 30 menit hingga satu jam dalam sehari, karena komunikasi dan interaksi itu sangat penting untuk tumbuh-kembang anak," tuturnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Lewat Gamas, ayah berperan penting bagi anak berkebutuhan khusus
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.