Lima Sektor Ini jadi Penyumbang Terbesar PDB Indonesia Kuartal II-2026
Bagikan:
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Secara nominal, PDB Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) pada kuartal II 2026 mencapai Rp6.552 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) 2020 tercatat sebesar Rp3.576 triliun.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, mengatakan lima lapangan usaha utama masih menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB nasional, yakni industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan
"Lapangan usaha pertama yang memberikan kontribusi besar kepada PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan. Total kelima lapangan tersebut mencakup sekitar 63,73 persen dari total PDB Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu, 5 Agustus.
Edy menyampaikan di antara berbagai sektor lapangan usaha, pengadaan listrik dan gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81 persen.
"Peningkatan ini disebabkan peningkatan penjualan listrik semua segmen konsumen, utamanya rumah tangga, bisnis dan industri," katanya.
Ia menambahkan selanjutnya sektor penyediaan akomodasi serta makan dan minum juga tumbuh 10,60 persen didukung meningkatnya tingkat hunian hotel dan permintaan jasa boga seiring semakin luasnya cakupan penerima Program Makan Bergizi Gratis.
Selain itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97 persen berkat semakin luasnya pemanfaatan layanan telekomunikasi di berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan sektor lainnya
Di sisi lain, Edy menyampaikan sektor pertambangan mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen secara tahunan dan penurunan ini dipicu melemahnya produksi pertambangan bijih logam yang terkontraksi 9,42 persen akibat turunnya produksi bauksit, timah, dan nikel.
"Selain itu belum pulihnya operasi tambang bawah tanah di Grasberg Block Cave di provinsi Papua Tengah pasca insiden longsor atau aliran lumpur pada September tahun 2025," tuturnya.
BACA JUGA:
Ia menambahkan kontraksi juga terjadi pada subsektor pertambangan batu bara dan lignit yang turun 1,41 persen (yoy) yang dipengaruhi penataan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 guna menjaga keseimbangan pasokan dan mendukung stabilitas harga batu bara di pasar global.
Sementara itu, subsektor minyak, gas, dan panas bumi mengalami kontraksi sebesar 2,15 persen akibat penurunan produktivitas alami sumur migas serta masih terbatasnya penemuan cadangan baru.
Meski sektor pertambangan melemah, sebagian besar lapangan usaha lainnya masih mencatat pertumbuhan positif yaitu industri pengolahan tumbuh 4,52 persen, sektor pertanian meningkat 3,80 persen, sedangkan sektor konstruksi tumbuh 6,68 persen secara tahunan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+