Menanti akhir kemacetan di Jalintim Sumatera - ANTARA News Jambi
Palembang (ANTARA) - Kemacetan di Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera sudah lama dikeluhkan para pengguna jalan. Pada jam-jam sibuk, perjalanan yang semestinya dapat ditempuh sekitar satu jam bisa memakan waktu hingga tiga atau empat jam.
Penyelesaian pembangunan Jalan Tol Palembang–Betung diharapkan menjadi solusi atas persoalan tersebut dengan memangkas waktu tempuh dan mengurangi beban lalu lintas di jalur arteri itu.
Kemacetan masih kerap terjadi di Jalintim Sumatera, terutama di KM 17, Kelurahan Sukomoro, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin. Di lokasi ini, kendaraan dari dua arah harus bergantian melintas akibat penyempitan lajur karena perbaikan jalan nasional.
Antrean panjang masih sering terjadi sehingga truk angkutan barang lintas provinsi dan mobil pribadi hanya bisa bergerak perlahan mengikuti kendaraan di depannya.
Kondisi tersebut tidak hanya memperpanjang waktu perjalanan, tetapi juga mengganggu kelancaran arus kendaraan di salah satu jalur utama penghubung Sumatera Selatan dengan sejumlah provinsi di bagian utara Pulau Sumatera.
Pada hari biasa, kemacetan umumnya dipicu kendaraan yang saling menyerobot atau kendaraan mogok di tengah jalan.
Kepadatan lalu lintas mencapai puncaknya saat arus mudik dan balik Lebaran karena Jalintim menghubungkan Sumatera Selatan menuju Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh.
Baca juga: Polda Riau pastikan Jalintim normal setelah ledakan pipa PT TGI
Pada musim libur Lebaran pertengahan Maret lalu sempat terjadi kemacetan parah di Jalintim Palembang–Jambi. Sebuah media nasional melaporkan para pemudik terjebak kemacetan selama tiga hari tiga malam di jalur tersebut. Kemacetan diperparah oleh aksi nekat sejumlah pengendara yang melawan arah sehingga arus lalu lintas tersumbat di kedua sisi jalan.
Untuk mengurangi kemacetan, Satuan Lalu Lintas Polres Banyuasin menerapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah titik, terutama di KM 17. Rekayasa lalu lintas tersebut dilakukan agar arus kendaraan dari dua arah tetap bergerak dan tidak terhenti total ketika volume kendaraan meningkat.
Polisi memberlakukan sistem buka-tutup lajur serta mengerahkan tim pengurai dengan sepeda motor untuk menyisir titik-titik kemacetan dan menindak pengendara yang menyerobot antrean.
Menurut KBO Satlantas Polres Banyuasin Iptu Eko S, aksi saling menyerobot menjadi salah satu penyebab arus kendaraan dari dua arah terkunci sehingga kemacetan semakin parah.
"Tim urai mobile kami turunkan untuk bergerak cepat menyisir titik-titik krusial. Aksi mendahului secara dipaksakan justru menjadi pemicu utama arus dari dua arah terkunci total," kata Eko.
Polisi mengimbau pengendara untuk menggunakan jalur alternatif Jambi–Palembang dan Palembang–Jambi guna menghindari kemacetan parah di KM 17 yang diakibatkan oleh perbaikan jalan.
Pengendara disarankan untuk melewati jalur Keluang–Sekayu–Prabumulih atau sebaliknya.
Bekerja sama dengan pengelola jalan tol, polisi juga membuka secara situasional ruas Tol Palembang–Betung bagi kendaraan pribadi roda empat.
Pengendara dari arah Palembang diarahkan masuk melalui Tanah Mas atau Alang-Alang Lebar menuju Pulau Rimau. Sebaliknya, kendaraan dari arah Betung atau Jambi dialihkan melalui Gerbang Tol Musi Landas menuju Karang Anyar.
Di tengah upaya mengurai kemacetan di Jalintim, pembangunan Jalan Tol Kayuagung–Palembang–Betung (Kapalbetung) sepanjang 111,69 kilometer terus berjalan. PT Hutama Karya mencatat progres konstruksi dari proyek senilai hampir Rp15 triliun itu secara keseluruhan telah melampaui 85 persen.
Baca juga: Banjir, polisi lakukan buka tutup Jalintim Sumatera di Pelalawan
Salah satu pencapaian proyek ini adalah rampungnya pengujian Jembatan Musi V di Palembang. Jembatan sepanjang 1,8 kilometer itu telah mengantongi Sertifikat Laik Fungsi (SLF) setelah menjalani uji beban statik dan dinamik.
PT Hutama Karya menargetkan Jembatan Musi V dapat difungsikan dan Seksi 1 serta Seksi 2 Jalan Tol Palembang–Betung beroperasi pada akhir tahun. Sementara itu, pembangunan Seksi 3 menuju Betung masih berlanjut seiring penyelesaian pembebasan lahan.
Meski demikian, sekitar 35 kilometer trase jalan tol menuju Betung masih berada di kawasan hutan sehingga pelepasan lahannya perlu segera diselesaikan agar pembangunan tidak terhambat.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mempercepat proses pembebasan lahan untuk mendukung penyelesaian pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera ruas Palembang–Betung–Jambi. Menurut Gubernur Herman Deru, kendala utama yang dihadapi saat ini tidak berkaitan dengan persoalan hukum, tetapi penuntasan pelepasan kawasan hutan.
"Target fungsional secara keseluruhan berproses hingga 2027. Namun, untuk ruas sampai Betung masih ada sekitar 35 kilometer lahan yang masuk kawasan hutan sehingga harus segera diselesaikan agar pengerjaan fisik di lapangan tidak terhambat," kata Herman.
Jika seluruh ruas tol telah beroperasi dan perbaikan jalan nasional rampung, perjalanan yang selama ini memakan waktu hingga tiga atau empat jam diharapkan dapat kembali ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Dengan demikian, mobilitas masyarakat dan distribusi barang di Sumatera bagian selatan menjadi lebih lancar.
Bagi para pengguna jalan, rampungnya proyek-proyek tersebut bukan hanya menambah jalur alternatif bagi mereka, tetapi juga memberikan kenyamanan dan keselamatan perjalanan karena mereka tidak lagi dihadapkan pada antrean panjang yang selama ini menjadi persoalan kronis di jalur timur lintas Sumatera.
Baca juga: BNPB: Banjir genangi Jalintim Sumatera di Tulang Bawang Lampung
Baca juga: Polda Riau siagakan personel di lokasi banjir Jalintim Sumatera
Pewarta: M. Imam Pramana
Uploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.