Menlu Kenang Konferensi Asia-Afrika, Soroti Tatanan Dunia Lebih Adil
Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha Nasir kembali menyoroti semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955 sebagai landasan perjuangan membangun tatanan dunia yang lebih adil dan inklusif.
Arrmanatha menegaskan keyakinan yang lahir dari konferensi tersebut tetap relevan hingga saat ini, terutama ketika negara-negara berkembang membutuhkan ruang lebih besar dalam pengambilan keputusan internasional.
"Kita semua mengingat Konferensi Asia-Afrika dan keyakinan yang diberikannya kepada kita pada 1955 bahwa tatanan dunia harus menjadi milik semua bangsa," kata Arrmanatha dalam pidatonya di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Senin (19/10/2026).
Dia menegaskan keyakinan tersebut tidak berubah meskipun dunia telah mengalami banyak perkembangan sejak pertengahan abad ke-20.
Menurutnya, sistem internasional perlu memberikan kesempatan yang lebih setara bagi seluruh negara, termasuk negara berkembang, untuk menyampaikan kepentingan dan memengaruhi keputusan global.
"Negara-negara berkembang membutuhkan suara yang lebih kuat. Sistem internasional harus adil," ujarnya.
Reformasi PBB Harus Berpihak pada Inklusivitas
Arrmanatha mengatakan prinsip-prinsip yang tercantum dalam Piagam PBB harus tetap dipertahankan. Namun, institusi internasional yang dibangun berdasarkan prinsip tersebut perlu menyesuaikan diri dengan tantangan baru.
Dia menilai perubahan diperlukan agar PBB lebih inklusif dalam mengambil keputusan, adaptif terhadap perkembangan dunia, serta efektif dalam menjalankan tugasnya.
Arrmanatha juga menekankan reformasi tidak cukup hanya menyangkut struktur organisasi.
Perubahan perlu mencakup cara PBB bekerja, menjalankan operasional, mengalokasikan sumber daya, dan merespons kebutuhan negara-negara anggotanya.
Menurutnya, reformasi menjadi semakin mendesak karena tantangan global terus berkembang, sementara ruang dialog multilateral justru semakin menyempit.
Dia mengingatkan tidak ada negara yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan dunia secara mandiri.
Karena itu, kerja sama internasional menjadi kebutuhan penting untuk menghadapi perubahan iklim, pandemi, perkembangan kecerdasan buatan, dan ancaman keamanan baru.