Mensos minta seluruh kepala Sekolah Rakyat awasi penuh kondisi para siswa - ANTARA News Megapolitan
Jakarta (ANTARA) - Menteri Sosial Saifullah Yusuf menekankan tiga poin penting yang menjadi tugas dan tanggung jawab kepala Sekolah Rakyat sebagai pemimpin tertinggi dalam institusi pendidikan berkonsep asrama tersebut, yang pertama yakni mengawasi secara penuh kondisi para siswa.
"Yang pertama yang ingin jadi perhatian kita bersama adalah soal pengawasan. Karena ini boarding school (sekolah berasrama), maka anak-anak harus terawasi selama 24 jam, tanpa kompromi. Upayakan ini menjadi kesadaran dari bapak-ibu sekalian," kata Gus Ipul dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Dalam rapat koordinasi bersama kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia pada Rabu (2/9), Gus Ipul menegaskan pengawasan ini menjadi salah satu perhatian utama agar tidak terjadi perundungan (bullying), kekerasan seksual, dan intoleransi di lingkungan Sekolah Rakyat.
Gus Ipul menegaskan, kepala sekolah dapat melibatkan para wali asuh, wali asrama, dan memanfaatkan fasilitas CCTV untuk mengawasi serta menjaga para siswa.
Baca juga: Kemensos paparkan manfaat besar Sekolah Rakyat bagi masa depan bangsa
Poin kedua, lanjut dia, yakni terkait kepatuhan para kepala sekolah terhadap seluruh prosedur dan tata kelola yang baik. Poin ini meliputi tata kelola keuangan yang bebas dari korupsi, tidak ada konflik kepentingan, serta menerapkan standar belajar dan asrama yang setara di seluruh Sekolah Rakyat.
Ketiga, yaitu konsolidasi antarpemangku kepentingan atau stakeholder. Gus Ipul mendorong para kepala Sekolah Rakyat agar membangun hubungan baik dengan lingkungan masyarakat, pemerintah daerah, hingga guru tamu yang mengajar di Sekolah Rakyat.
"Sekolah Rakyat berjalan karena kita bergerak bersama. Guru tamu dilibatkan aktif, bukan pelengkap. Jadi, guru-guru tamu ini meskipun sifatnya sementara, tetapi libatkan dengan penuh, bangun kesadaran dengan para guru tamu itu. Tidak boleh bekerja setengah-setengah di lingkungan Sekolah Rakyat. Pemda dilibatkan dalam pengawasan perkuat dukungan keamanan, kebersihan, dan penanganan kasus," papar Gus Ipul.
"Ini saya titipkan betul kepada para kepala sekolah. Intinya adalah pada pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi. Tiga pilar ini tidak bisa ditawar. Setiap anak berhak pulang dengan masa depan yang lebih baik," sambungnya.
Baca juga: Mensos ingin tiap kabupaten/kota punya gedung Sekolah Rakyat
Mensos juga meminta agar mulai bulan depan seluruh kepala sekolah membuat laporan mengenai kondisi masing-masing peserta didiknya, mulai dari kondisi kesehatan, perkembangan mental, hingga latar belakang setiap siswa.
"Jadi, para kepala sekolah silakan ini disampaikan dengan baik. Saya masih memberikan satu kesempatan selama satu sampai tiga bulan kepada para kepala sekolah ini untuk beradaptasi, menyesuaikan diri dengan siswa yang baru, dengan lingkungan yang baru, setelah itu kita harus take off," tuturnya.
Selain itu, Gus Ipul juga menyoroti kondisi Sekolah Rakyat yang lokasinya berdekatan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, salah satunya seperti pembangunan gedung permanen SRT 1 Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Ia juga mengingatkan kepala sekolah terkait untuk memerhatikan kondisi para murid dan terus berkoordinasi dengan pihak pemerintah daerah.
"Mohon untuk koordinasi betul dengan pemerintah daerah karena jaraknya juga dekat dengan posisi pembangunan permanen Sekolah Rakyat," ucap Mensos.
Baca juga: Mensos sebut Sekolah Rakyat terdampak jika tambahan anggaran tak disetujui
Dalam rapat tersebut, Kepala SRT 1 Kotawaringin Timur Nikkon Bhastari mengemukakan, meski letak gedung sekolah terdampak asap karhutla karena hanya berjarak sekitar tiga meter dari lokasi kebakaran, tetapi pihaknya tidak memulangkan para siswa ke rumah masing-masing, sebab hal itu dinilai lebih berbahaya dibandingkan murid-murid tetap berada di lingkungan sekolah.
"Untuk anak-anak dikondisikan tidak kami pulangkan karena lebih berbahaya ketika pulang daripada di SR. Kalau di SR dekat dengan puskesmas, dekat dengan rumah sakit, fasilitas kami lengkap. Oksigen ada, masker kami sudah terpenuhi, nebulizer juga sudah siap," kata Nikkon.
Ia menambahkan, pihaknya juga tetap menggelar kegiatan belajar mengajar. Namun, kegiatan tersebut dilakukan di asrama, jika ruang kelas tidak dapat digunakan karena terkena asap karhutla.
"Tetap kami melakukan pembelajaran. Dimulai dari pukul 8 sampai pukul 9 (pagi). Namun ketika kabut, maka kegiatan pembelajaran (dilakukan) di asrama dibantu oleh guru-guru," ujar dia.
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.