Mentan: Pemerintah jaga produksi padi di tengah ancaman El Nino 2026
Pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga produksi tetap berjalan, terutama melalui penguatan pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah menghadapi keterbatasan air.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah menjaga produksi padi melalui pompanisasi dan pengelolaan air, sehingga produksi nasional tetap meningkat meski menghadapi ancaman El Nino.
"Pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga produksi tetap berjalan, terutama melalui penguatan pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah yang menghadapi keterbatasan air," kata Mentan terkonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air dan petani dapat mempertahankan aktivitas produksi.
Mentan menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan petani menghadapi tantangan produksi sendirian. Pemerintah terus turun langsung untuk memperkuat dukungan sarana produksi sekaligus menjaga ketersediaan air bagi pertanian.
“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” ujar Amran.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi nasional periode Januari hingga Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 0,07 persen dibandingkan periode sama tahun lalu meski menghadapi tantangan iklim.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan angka tersebut merupakan hasil penghitungan berdasarkan luas panen dan produktivitas padi yang telah berstatus angka tetap.
“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” kata Ateng.
Produksi padi nasional tetap tumbuh sepanjang delapan bulan pertama 2026, meski sektor pertanian menghadapi tantangan perubahan cuaca dan potensi El Nino.
Kenaikan produksi tersebut juga tercermin dari luas panen. BPS mencatat luas panen padi pada Januari-Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, meningkat 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Luas panen padi pada Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare atau naik sebesar 0,11 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng.
Pertumbuhan produksi padi turut menopang produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat. BPS mencatat produksi beras pada Januari-Agustus 2026 mencapai 25,29 juta ton, meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Dengan demikian untuk produksi beras pada kondisiJanuari sampai dengan Agustus tahun 2026 mencapai 25,29 juta ton atau naik sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujarnya.
Capaian tersebut menjadi penting karena produksi padi berlangsung di tengah tantangan iklim yang perlu diantisipasi. Potensi El Nino yang diperkirakan terjadi dengan intensitas kuat dapat meningkatkan risiko kekeringan dan mempengaruhi ketersediaan air untuk pertanian.
Namun, hingga Agustus 2026, produksi padi nasional masih menunjukkan pertumbuhan.
Ateng menjelaskan, capaian produksi Januari-Agustus 2026 telah berstatus angka tetap, karena penghitungan luas panen dan produktivitas pada periode tersebut telah menggunakan data final.
Sementara itu, perkembangan produksi pada periode berikutnya masih dapat berubah mengikuti kondisi pertanaman di lapangan. Data produksi September-November 2026 saat ini masih berstatus angka potensi, sedangkan data produktivitas masih berupa angka sementara.
Perubahan kondisi cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen dapat mempengaruhi realisasi produksi pada periode tersebut.
Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, sejumlah wilayah sentra masih memiliki potensi panen pada September-November 2026. Sentra tersebut antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.
Di Jawa Barat, potensi panen antara lain berada di Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cirebon, dan Bekasi. Sementara di Jawa Timur terdapat Ngawi. Di Sulawesi, sejumlah sentra antara lain Bone, Wajo, Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, dan Banggai.
Dengan produksi padi mencapai 43,89 juta ton GKG hingga Agustus, produksi nasional tetap menunjukkan pertumbuhan meski menghadapi tantangan iklim dan potensi El Nino.
Capaian tersebut menunjukkan produksi padi tetap bergerak kuat, sementara pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga produktivitas hingga akhir tahun.
Baca juga: Dinas Pertanian: Produksi padi di Sumsel naik 5 persen saat kemarau
Baca juga: Realisasi produksi padi di Karawang capai 955.951 ton
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.