Merespons Pidato Presiden Prabowo, Menteri Mukhtarudin Siap Tingkatkan Kualitas Pekerja Migran Indonesia
Presiden Prabowo, dalam pidatonya, menegaskan pentingnya penguasaan bahasa asing sejak dini. Pemerintah akan mendorong pembelajaran bahasa asing, mulai dari tingkat sekolah dasar, termasuk Bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis, hingga Rusia.
Presiden Prabowo juga menekankan bahwa anak-anak Indonesia harus memperoleh akses terhadap pendidikan terbaik, sehingga memiliki kemampuan yang memungkinkan mereka bersaing dan bekerja dengan berbagai pihak di tingkat internasional.
Menanggapi hal tersebut, Mukhtarudin menilai kebijakan penguatan bahasa asing sejak usia dini merupakan investasi strategis dalam membangun generasi Indonesia yang siap memasuki pasar kerja global.
Baca Juga: Pemerintah Luncurkan Asta Mandala SMK Go Global, Targetkan 500 Ribu Pekerja Migran Terampil
"Apa yang disampaikan bapak presiden hari ini adalah visi besar untuk mengubah paradigma pekerja migran kita. Kita ingin bergerak dari tenaga kerja yang selama ini masih banyak berada pada pekerjaan berkeahlian rendah menuju tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan mampu berkomunikasi secara global," jelasnya.
Mukhtarudin menyatakan bahwa hambatan utama pekerja migran Indonesia saat ini adalah kendala bahasa. Arahan Presiden Prabowo untuk membekali dengan kemampuan bahasa global sejak usia emas (di bawah 12 tahun) adalah investasi jangka panjang yang sangat presisi.
Dalam hal ini, arah kebijakan yang disampaikan Presiden Prabowo memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan Indonesia dalam menyiapkan tenaga kerja yang mampu memasuki pasar kerja internasional.
"Bapak presiden memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa persaingan ke depan bukan hanya antarnegara, tetapi juga antar-SDM. Karena itu, kita harus menyiapkan anak-anak Indonesia agar sejak awal memiliki kemampuan yang dibutuhkan dunia," kata Mukhtarudin.
Kemampuan bahasa akan menjadi salah satu bekal penting ketika generasi muda memasuki lingkungan kerja internasional. Kemampuan tersebut juga perlu dibarengi keterampilan teknis, sertifikasi, penguasaan teknologi, serta pemahaman budaya dan aturan di negara tujuan.
Baca Juga: Kementerian P2MI Perkuat Kerja Sama Penempatan Pekerja Migran Berkualitas ke Portugal
Mukhtarudin juga menyoroti bagian pidato Presiden Prabowo yang menggambarkan tingginya kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara. Kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan Indonesia dengan meningkatkan kualitas calon pekerja migran.
Ia menuturkan, kebutuhan tenaga kerja global yang semakin beragam harus diikuti dengan penyiapan SDM berbasis kompetensi.
"Pendidikan dan pelatihan harus mampu membaca kebutuhan pasar sehingga masyarakat tidak sekadar mendapatkan kesempatan bekerja, tetapi memperoleh akses terhadap pekerjaan yang sesuai kemampuan dan memiliki prospek yang baik," ujarnya.
Karakter tersebut merupakan modal sosial yang harus diperkuat dengan profesionalisme.
"Keramahan adalah kekuatan kita, dunia kerja juga saat ini membutuhkan lebih dari itu. Ada disiplin, kemampuan teknis, komunikasi, produktivitas dan kepatuhan terhadap aturan," kata Mukhtarudin.
Baca Juga: Pekerja Migran Ilegal Rentan Jadi Korban TPPO
Oleh karena itu, peningkatan kualitas pekerja migran harus berjalan beriringan dengan pelindungan. Setiap proses penempatan harus dilakukan secara resmi, transparan dan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Ukuran keberhasilan kita bukan sekadar berapa banyak yang berangkat. Yang lebih penting adalah mereka berangkat secara resmi, bekerja sesuai kompetensi, mendapatkan haknya dan pulang membawa peningkatan kualitas kehidupan," jelas Mukhtarudin.