Meta Ketahuan Pampang Iklan Kekerasan Seksual Anak, Begini Tanggapannya
Liputan6.com, Jakarta - Selama bertahun-tahun, materi kekerasan seksual terhadap anak telah membanjiri platform Meta. Perusahaan raksasa teknologi asal Amerika Selatan (AS) ini dituduh berusaha memelankan keparahan masalah serta melenggangkan panduan keselamatan anak.
Yang mengejutkan adalah hasil dari investigasi baru BBC menunjukkan Instagram mengeruk keuntungan dari iklan berbayar berupa materi kekerasan seksual anak (CSAM) di India. Temuan tersebut menyoroti celah besar dalam upaya Meta mengatasi masalah ini.
Awal 2026, Meta mengumumkan akan berusaha mengurangi ketergantungan pada moderator manusia pihak ketiga dan beralih ke kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Namun, diperkirakan sistem-sistem tersebut tidak mampu membendung konten dalam jumlah besar serta sangat meresahkan.
Dikutip dari Futurism, Jumat (17/7/2026), beberapa iklan yang memberatkan ditinjau BBC, termasuk istilah-istilah seperti “video pemerkosaan” dan “video anak” dan mengarahkan pengguna ke saluran Telegram mencurigakan. Materi tersebut bahkan dapat dibeli mulai dari USD 1 (Rp 18 ribuan).
Temuan mengejutkan ini mengguncang pemerintahan negara setempat. Selama akhir pekan, Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi memberikan pemberitahuan agar Meta menghentikan semua iklan dan konten yang mempromosikan materi CSAM.
Menurut lembaga penyiaran India, DD News, pemerintahan memberikan Meta waktu hingga 11 Juli untuk menyediakan rincian penjelasan.
Setelah BBC menghubungi Meta untuk memberikan tanggapan, perusahaan mengklaim telah menghentikan akun-akun berkaitan dengan pelanggaran kebijakan.
Juru bicara Meta menyatakan, “Tidak ada sistem yang sempurna, dan proses peninjauan kami mungkin tidak mendeteksi semua pelanggaran kebijakan.”
“Kami terus menjalankan teknologi deteksi proaktif pada iklan begitu tayang. Siapa pun dapat melaporkannya kepada kami jika dirasa iklan tersebut melanggar aturan kami,” tambahnya kepada BBC.