Mirjawal: Kematian Sampurna Sinyal Ancaman Kesehatan Masyarakat
Kematian orangutan bernama Sampurna di Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi peringatan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengancam satwa liar.
Manusia yang hidup di wilayah terdampak juga menghirup udara yang sama dan menghadapi risiko gangguan kesehatan serupa.
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V, drh. Mirjawal mengatakan orangutan dapat menjadi salah satu penanda awal atau sentinel terhadap ancaman kesehatan lingkungan.
“Paru-paru orangutan dan paru-paru manusia menghadapi asap yang sama. Ketika satwa liar mulai mengalami gangguan pernapasan berat, kita harus membacanya sebagai peringatan bahwa kondisi lingkungan juga dapat mengancam kesehatan masyarakat,” kata Mirjawal dalam keterangan tertulis, Sabtu 5 September 2026.
Sampurna merupakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) jantan dewasa. Ia ditemukan lemas dan tidak sadar di kawasan perkebunan sawit di Ketapang pada 30 Agustus 2026.
BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) segera mengevakuasi Sampurna. Dokter hewan memberikan terapi oksigen dan cairan melalui infus, tetapi kondisinya terus memburuk hingga akhirnya mati pada 1 September 2026.
Hasil nekropsi menemukan perubahan pada beberapa organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal. Gangguan paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap dan menyebabkan tubuh Sampurna mengalami kekurangan oksigen akut.
Mirjawal mengapresiasi masyarakat, BKSDA Kalimantan Barat, YIARI, dokter hewan, serta seluruh petugas yang terlibat dalam penyelamatan Sampurna.
“Tim lapangan telah bekerja dalam situasi yang tidak mudah. Upaya mereka patut dihormati karena setiap tindakan penyelamatan juga menghasilkan informasi penting mengenai kondisi kesehatan satwa dan lingkungannya,” ujarnya.
Sampurna tercatat sebagai orangutan ketujuh yang dievakuasi dalam gelombang karhutla tersebut dan menjadi kematian pertama yang tercatat dalam episode kebakaran ini.
Menurut Mirjawal, kondisi Sampurna seharusnya tidak dilihat hanya sebagai satu kasus kematian satwa. Pada saat yang sama, asap karhutla juga mengganggu aktivitas masyarakat, memaksa pembelajaran dilakukan secara daring, dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
“Ketika satwa dan manusia menunjukkan gangguan kesehatan dalam wilayah dan waktu yang sama, datanya harus dibaca secara bersama. Inilah makna nyata pendekatan One Health,” jelasnya.
Dalam pendekatan One Health, informasi mengenai kualitas udara, kesehatan manusia, kondisi satwa, perubahan habitat, dan lingkungan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Seluruh data tersebut perlu dihubungkan agar pemerintah dan para ahli dapat mengenali ancaman lebih cepat.
Peran dokter hewan, lanjut Mirjawal, bukan hanya mengobati satwa yang sakit. Dokter hewan juga perlu membaca perubahan kesehatan satwa sebagai tanda awal adanya tekanan lingkungan dan potensi ancaman bagi kehidupan yang lebih luas.
“Satwa liar tidak dapat menyampaikan bahwa udara yang mereka hirup sudah berbahaya. Kondisi tubuh dan perubahan perilaku merekalah yang berbicara. Kita harus mampu membaca tanda-tanda itu sebelum semakin banyak satwa dan manusia menjadi korban,” katanya.
Mirjawal yang juga Calon Ketua Umum PB PDHI, mendorong penguatan surveilans bersama yang melibatkan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan, konservasi, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
“Kematian Sampurna harus menjadi peringatan bersama. Melindungi kesehatan satwa liar juga berarti menjaga kesehatan ekosistem dan melindungi manusia,” demikian Mirjawal.