North Hub Jadi Magnet Investasi Baru Industri Hulu Migas |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyebut North Hub Development Project Selat Makassar menjadi salah satu magnet investasi baru bagi industri hulu migas nasional. Proyek strategis senilai sekitar 15 miliar dolar AS itu dinilai tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang investasi baru di sektor fabrikasi migas dalam negeri.
North Hub merupakan proyek pengembangan terintegrasi Lapangan Geng North dan Gehem di Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur. Proyek yang dioperatori Searah tersebut mencakup pembangunan 16 sumur pengembangan, sistem produksi bawah laut, fasilitas Floating Production, Storage and Offloading (FPSO), jaringan pipa ekspor gas berdiameter 32 inci, hingga fasilitas penerima gas di Terminal Santan. Kapasitas pengolahan gasnya mencapai 1 miliar kaki kubik per hari (BSCFD), pengolahan kondensat 80 ribu barel per hari, dengan kapasitas penyimpanan 1,4 juta barel.
Djoko mengatakan pengembangan North Hub tidak hanya memperkuat pasokan energi nasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kapasitas industri fabrikasi lepas pantai di Indonesia.
"Keberhasilan industri fabrikasi dalam negeri dalam menjawab tantangan proyek berskala besar ini menjadi bukti nyata bahwa penerapan teknologi yang tinggi mampu diimplementasikan di Indonesia sekaligus membuka peluang investasi baru pembangunan fasilitas fabrikasi migas dalam negeri," kata Djoko dalam seremoni first steel cutting FPSO Bahtera Haluan Lestari (BHL), Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan proyek tersebut menjadi salah satu investasi hulu migas terbesar yang tengah dikembangkan di Indonesia. Dari total investasi sekitar 15 miliar dolar AS, hampir 3 miliar dolar AS dialokasikan untuk pembangunan FPSO, sedangkan sekitar 12 miliar dolar AS digunakan untuk belanja modal (capital expenditure).
Chief Executive Officer Searah North Ganal Mirko Araldi mengatakan North Hub dirancang untuk membuka potensi gas laut dalam di Cekungan Kutai sekaligus mendukung kebutuhan energi Indonesia dalam jangka panjang. Ia menambahkan proyek tersebut ditargetkan mulai berproduksi pada 2028 atau kurang dari tiga tahun setelah keputusan investasi final (final investment decision/FID).
Searah merupakan perusahaan patungan ENI dan PETRONAS yang dibentuk pada 2026 dengan kepemilikan masing-masing 50 persen. Perusahaan yang berkantor pusat di London, Inggris, itu mengelola 19 aset hulu migas di Indonesia dan Malaysia, serta menargetkan menjadi pemain utama energi hulu di Asia Tenggara melalui pengembangan proyek-proyek strategis seperti North Hub.