NTB perlu memperkuat mitigasi hadapi kemarau panjang akibat El Nino
Mataram (ANTARA) - Universitas Mataram (Unram) mendorong pemerintah dan masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memperkuat mitigasi dalam menghadapi kemarau panjang yang beriringan dengan fenomena El Nino.
Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Mataram Hilman Ahyadi mengatakan musim kemarau merupakan fenomena periodik setiap tahun, namun kondisi saat ini beriringan dengan El Nino berpotensi memperparah kekeringan.
"Ini kemungkinan besar bukan hanya intensitasnya yang cukup tinggi cuman periodenya relatif lama. Ini juga berdasarkan informasi dari BMKG," ujarnya di Mataram, Sabtu.
Hilman menuturkan kondisi tersebut berpotensi meningkatkan intensitas dan memperpanjang periode kemarau, sehingga berdampak terhadap ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat maupun lahan pertanian.
Ketersediaan air irigasi yang berkurang dapat menurunkan produktivitas tanaman dan meningkatkan risiko gagal panen apabila petani tidak melakukan penyesuaian terhadap kondisi cuaca.
Pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi, pengawasan, dan pengendalian terhadap aktivitas pembakaran, baik pembakaran sampah rumah tangga maupun pembukaan lahan guna mengurangi berbagai risiko tersebut.
Baca juga: Akademisi Unram: Kemarau panjang menurunkan produktivitas tanaman
Selain mitigasi kebakaran, Hilman mendorong sektor pertanian melakukan langkah adaptasi dengan menyesuaikan pola tanam berdasarkan kalender pertanian serta memilih tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan.
"Tanaman padi atau palawija jangan ditanam saat musim kemarau, tapi tanam yang tahan kekeringan misalnya seperti tembakau," ucap dia.
Lebih lanjut Hilman mendorong petani melakukan konservasi air di lahan pertanian untuk mempertahankan ketersediaan air selama periode kemarau berlangsung lebih panjang.
Di tingkat rumah tangga, masyarakat juga perlu menghemat penggunaan air dan menghindari pemakaian secara berlebihan. Penyimpanan air untuk kebutuhan sehari-hari juga harus memperhatikan kebersihan tempat penampungan agar tidak menjadi tempat berkembangbiak nyamuk pembawa penyakit.
Baca juga: Tiga wilayah NTB berpeluang hujan di tengah El Nino
Hilman mengingatkan masyarakat menjaga sanitasi dengan tidak membuang limbah domestik ke selokan maupun lahan terbuka karena kondisi kekeringan dapat menyebabkan limbah menumpuk dan menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit seperti nyamuk, tikus, lalat, dan kecoak.
Selain kekurangan air, kemarau panjang yang disertai suhu tinggi juga meningkatkan risiko dehidrasi, terutama bagi masyarakat yang bekerja di luar ruangan seperti petani, peternak, dan nelayan.
"Mitigasi dan adaptasi perlu dilakukan bersama untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap lingkungan, pertanian, dan kesehatan masyarakat," pungkas Hilman.
Pewarta : Sugiharto Purnama dan Septi Dwi Cahyani
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026