Olah Limbah Jadi Berkah, Inovasi Pupuk Kompos Dorong Kemandirian Ekonomi Kelompok Tani Sungai Tanang
Agam (ANTARA) - Upaya mendorong kemandirian ekonomi petani sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan terus dilakukan di Nagari Sungai Tanang, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam.
Salah satunya melalui kegiatan “Inovasi Pengelolaan Limbah Peternakan Melalui Produksi Pupuk Kompos Padat untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Kelompok Tani” bersama Kelompok Tani Nan Mudo, Jorong Sungai Tanang Gadang, Nagari Sungai Tanang, Selasa (25/8).
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari Dr. Mislaini, R sebagai anggota, Risa Meutia Fiana, STP., MP., dan Dr. Ely Vebrianti, SPt., MP. Tim memberikan pendampingan kepada kelompok tani mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, hingga praktik langsung pembuatan pupuk kompos.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada anggota Kelompok Tani Nan Mudo. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada para petani mengenai pentingnya pengelolaan limbah peternakan dan limbah pertanian agar dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai guna dan ekonomis.
Setelah sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan sebagai pembekalan bagi para petani. Dalam pelatihan tersebut, tim memberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai pengolahan bahan-bahan organik menjadi pupuk kompos padat.
Para petani juga diberikan pemahaman mengenai pemanfaatan potensi limbah yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai bahan baku kompos.
"Seluruh anggota Kelompok Tani Nan Mudo kemudian melaksanakan percobaan pembuatan pupuk kompos secara bersama-sama dengan didampingi oleh tim pelaksana," kata Mislaini.
Ia mengatakan para petani memanfaatkan kotoran sapi yang tersedia dari kegiatan peternakan serta limbah sisa sayuran yang terbuang di lahan pertanian sebagai bahan utama pembuatan kompos.
Kegiatan praktik ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena para petani tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga dapat langsung mempraktikkan proses pengolahan limbah menjadi pupuk kompos.
"Antusiasme anggota kelompok tani terlihat dari keterlibatan mereka dalam menyiapkan dan mengolah bahan-bahan yang tersedia," kata Mislaini.
Pemanfaatan limbah tersebut menjadi langkah sederhana namun memiliki manfaat besar. Limbah yang sebelumnya berpotensi terbuang dan mencemari lingkungan kini dapat diolah menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian.
Melalui kegiatan ini, tim berharap Kelompok Tani Nan Mudo dapat meningkatkan keterampilan dan kemandirian dalam mengolah limbah peternakan dan pertanian menjadi pupuk kompos padat.
Pemanfaatan kompos juga diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dari luar sekaligus memberikan peluang ekonomi baru bagi kelompok tani.
Kegiatan pengabdian ini menjadi salah satu langkah nyata dalam membangun pertanian yang ramah lingkungan, produktif, dan berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar, limbah peternakan dan pertanian tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tidak berguna, tetapi dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Ke depan, pendampingan dan pengembangan kegiatan diharapkan dapat terus dilakukan sehingga produksi pupuk kompos oleh Kelompok Tani Nan Mudo dapat berkembang dan menjadi salah satu bentuk kemandirian ekonomi masyarakat Nagari Sungai Tanang.