Orang Kurus Bukan Berarti Bebas Kolesterol, Ini Penjelasan Dokter
Bagikan:
JAKARTA - Tidak sedikit orang masih menganggap tubuh kurus identik dengan kondisi yang sehat. Anggapan ini membuat sebagian orang merasa tidak perlu khawatir terhadap penyakit yang selama ini identik dengan kelebihan berat badan, salah satunya kolesterol tinggi.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Kolesterol tinggi bisa dialami siapa saja, termasuk mereka yang memiliki berat badan normal atau bahkan cenderung kurus. Artinya, bentuk tubuh bukan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kesehatan seseorang.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. dr. Susetyo Atmojo, menjelaskan ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan kadar kolesterol seseorang meningkat meski tubuhnya terlihat ramping.
"Ada banyak faktor yang menyebabkan orang kurus mengalami kolesterol tinggi. Tidak hanya karena pola makan, tetapi juga dipengaruhi faktor keturunan atau distribusi lemak di tubuh," kata dr. Susetyo dalam konferensi pers Daewoong bersama PERKI dengan topik Kurus Bukan Berarti Aman: Kolesterol Tinggi Tidak Pandang Berat Badan di Jakarta, baru-baru ini.
Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah faktor genetik. Kondisi yang dikenal sebagai familial hypercholesterolemia (FH) ini merupakan kelainan bawaan yang membuat kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat tetap tinggi sejak lahir.
Menurut dr. Susetyo, penderita FH dapat memiliki kadar kolesterol tinggi meski tidak mengalami kelebihan berat badan.
"Kondisi ini bisa disebabkan oleh faktor genetik. Meskipun badannya kurus, kadar kolesterol LDL bisa tetap tinggi," ujarnya.
BACA JUGA:
Selain faktor keturunan, pola makan tetap memegang peranan penting. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, seperti gorengan atau makanan olahan, dapat memicu peningkatan kadar kolesterol LDL.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat terbentuknya plak pada pembuluh darah yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Tidak hanya itu, gaya hidup yang minim aktivitas fisik juga dapat menjadi penyebab kolesterol tinggi pada orang bertubuh kurus. Kurangnya olahraga membuat metabolisme lemak dalam tubuh tidak berjalan optimal sehingga kadar kolesterol jahat lebih mudah meningkat.
Hal lain yang sering tidak disadari adalah adanya obesitas sentral atau penumpukan lemak viseral di rongga perut. Kondisi ini bisa terjadi pada seseorang dengan indeks massa tubuh yang masih tergolong normal sehingga tidak selalu terlihat dari penampilan fisik.
"Jangan hanya melihat angka di timbangan. Bisa saja berat badannya normal, tetapi lemak di rongga perutnya banyak," katanya.
Pada populasi Asia, obesitas sentral umumnya ditandai dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan. Penumpukan lemak di area perut ini diketahui berkaitan erat dengan meningkatnya risiko gangguan metabolik, termasuk kolesterol tinggi, diabetes, hingga penyakit kardiovaskular.
Karena itu, menjaga berat badan saja belum cukup untuk melindungi diri dari risiko kolesterol tinggi. Pola makan seimbang, rutin berolahraga, membatasi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, serta melakukan pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung.
Pemeriksaan rutin menjadi semakin penting bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung atau kolesterol tinggi dalam keluarga.
"Ketika kita mengetahui kondisi kesehatan sejak dini, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum kolesterol tinggi memicu komplikasi yang lebih serius," ungkapnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+