Pakar UGM: Perkuat industri agroteknologi sejahterakan masyarakat desa
Pakar UGM: Perkuat industri agroteknologi sejahterakan masyarakat desa
Selasa, 25 Agustus 2026 17:55 WIB
Petani menggarap lahan pertanian dengan menggunakan alat mesin pertanian di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. ANTARA/Hery Sidik.
Yogyakarta (ANTARA) - Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Wisnu Setiadi Nugroho mendorong penguatan industri agroteknologi untuk tingkatkan kesejahteraan masyarakat wilayah perdesaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Wisnu di Yogyakarta, Selasa, mengatakan, kebijakan perlindungan sosial tetap penting untuk mencegah masyarakat jatuh lebih dalam, tetapi diperlukan transformasi ekonomi lokal agar masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraannya secara berkelanjutan.
"Penguatan industri agroteknologi adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan. Sebab, kemiskinan di wilayah perdesaan DIY yang masih mencapai 10,18 persen, lebih tinggi dibandingkan perkotaan sebesar 9,55 persen," katanya.
Berdasarkan data BPS Maret 2026, sebaran persentase penduduk miskin DIY, yaitu di Kulon Progo di kisaran 15 persen, di Gunungkidul kisaran 15 persen, sementara angka kemiskinan Bantul kisaran 11,5 persen, Sleman 7,4 persen, dan Kota Yogyakarta 6,2 persen.
Menurut dia, konsentrasi kemiskinan yang ada di Kulon Progo dan Gunungkidul menunjukkan bahwa sektor pertanian belum memberikan nilai tambah yang memadai bagi pelakunya.
Pihaknya menilai, hilirisasi hasil pertanian berbasis teknologi dan riset perguruan tinggi dapat menjadi salah satu solusi, apalagi DIY terdapat berbagai perguruan tinggi yang dapat berperan dalam mengembangkan teknologi sekaligus memperkuat industri pengolahan hasil pertanian.
"Industri agroteknologi menaikkan nilai tambah produk lokal sekaligus menciptakan pekerjaan berupah lebih baik justru di wilayah yang paling membutuhkannya," katanya.
Selain industri agroteknologi, kata dia, upaya lain dalam mengatasi kemiskinan di DIY bisa dengan mengubah orientasi pariwisata dari mengejar jumlah kunjungan menjadi pariwisata bernilai tambah tinggi.
Wisnu menilai, selama ini pariwisata Yogyakarta tumbuh dengan mengandalkan jumlah kunjungan, model pariwisata seperti ini berpotensi menciptakan banyak pekerjaan tipis, informal, musiman, dan berupah rendah.
Dia menjelaskan, pariwisata bernilai tambah tinggi menuntut adanya keterhubungan antara pendidikan dan pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri.
"Selain itu, rantai pasok pariwisata seperti kriya, kuliner kemasan, tekstil, hingga jasa kreatif juga perlu didorong agar memiliki standar produksi dan nilai tambah yang lebih tinggi," katanya
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026