Jakarta -

Melalui pameran seni bertajuk 'Within Walking Distance' Artotel Casa Kuningan kembali menampilkan ruang apresiasi. Kali ini karya-karya dari seniman asal Semarang bernama Lila atau dikenal Shade of Lilac.

Pameran yang menampilkan delapan karya milik Lila ini akan berlangsung dari 23 Juli hingga 23 Oktober 2026. Dalam karya seni yang dituangkannya, Lila mencoba meng-capture apa yang ia lihat dan suka dari sebuah perjalanan yang sederhana.

Objeknya adalah bangunan-bangunan seperti pertokoan, bangunan tua, bahkan bangunan terbengkalai hingga gang-gang. Dari karya-karyanya itu, Lila mencoba untuk menyelami makna dari sebuah cerita yang sederhana yang dekat dengan kita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika saya coba keliling, ternyata bangunan-bangunan sederhana yang sering kita lewatin itu ternyata dia itu cantik gitu dengan caranya sendiri. Ketika kita abadikan, dia akan selalu menjadi objek yang punya cerita gitu, enggak kalah sama kayak landmark yang terkenal di suatu kota," katanya saat pembukaan pameran, Kamis (23/7/2026).

Sehingga untuk pameran tunggal pertamanya ini, Lila, menyebut inspirasinya adalah buah dari perjalanan yang sering ia lakukan ketika berada di suatu tempat. Tak ada kriteria khusus bangunan seperti apa yang akan ia tuangkan dengan medium cat air itu.

Karya seniman bernama Lila yang dipamerkan di Artotel Casa Kuningan, JakartaKarya seniman bernama Lila yang dipamerkan di Artotel Casa Kuningan, Jakarta. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

"Kalau dari 'Within Walking Distance' itu tuh sebenarnya kumpulan aja, karena kebetulan saya suka jalan-jalan, entah yang jauh atau dekat gitu. Biasanya kayak setiap kali mau ke satu objek itu selalu menyusuri gang-gang dulu," jelasnya.

"Jadi dari gang-gang itu, saya melihat 'asyik nih rumahnya kok kayak memanggil gitu, kayak magically calling me to draw them' kayak gitu. Jadi koneksinya tuh personal sekali," lanjutnya.

Ia menjelaskan saat pertama kali membuat karya seninya dari sebuah arsitektur yang jarang orang memaknai hal itu sebagai sebuah objek seni. Saat pertama kali pindah ke Semarang, Lila lebih terpukau dengan satu gedung terbengkalai alih-alih landmark yang terkenal seperti Kota Lama.

"Waktu itu ke Kota Lama Semarang, itu ada landmark yang lebih populer namanya Marba gitu. Tapi sepanjang saya jalan ke sana 'ih ada satu gedung terbengkalai kok kayaknya menarik sih' jadi kayak panggilan personal saja sih gitu, engga ada alasan khususnya sebenarnya," ungkapnya

(upd/ddn)