Jakarta -

Singapura berhasil mempertahankan predikat sebagai negara dengan paspor paling kuat di dunia. Pemiliknya leluasa memasuki negara lain, tanpa mengurus visa.

Berdasarkan Henley Passport Index edisi Juli 2026, pemegang paspor Singapura dapat mengunjungi 192 destinasi bebas visa atau cukup dengan visa on arrival.

Catatan sip itu menjadi kali kedua Singapura berada di posisi teratas pada 2026. Raihan pertama serupa dicatatkan pada pemeringkatan Januari lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir The Straits Times, Jumat (24/7/2026), Singapura, dengan paspor terkuat selanjutnya ada Uni Emirat Arab (UEA), Jepang, dan Korea Selatan dengan akses ke 188 destinasi. UEA menjadi negara dengan kenaikan peringkat terbesar setelah naik tiga posisi.

Swedia menempati posisi ketiga dengan akses ke 187 destinasi. Sementara itu, Belgia, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, dan Spanyol berbagi peringkat keempat dengan akses ke 186 destinasi.

Dilanjut Austria, Yunani, Malta, Portugal, dan Swiss berada di posisi kelima. Adapun Malaysia menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara selain Singapura yang masuk 10 besar, berbagi peringkat ketujuh bersama Australia, Selandia Baru, Kanada, dan sejumlah negara Eropa.

Di sisi lain, Afghanistan kembali menjadi negara dengan paspor terlemah di dunia. Paspor negara itu hanya memberikan akses ke 22 destinasi, menciptakan selisih hingga 170 destinasi dibandingkan Singapura yang berada di puncak daftar.

Meski begitu, Henley & Partners mencatat kebebasan bepergian terus meningkat dalam dua dekade terakhir. Rata-rata paspor di dunia kini memberikan akses bebas visa ke 108 destinasi, naik dari 58 destinasi saat indeks ini pertama kali diterbitkan pada 2006.

Laporan itu juga menunjukkan adanya hubungan antara tingkat perdamaian suatu negara dengan kekuatan paspornya. Singapura berada di peringkat kedelapan dalam Global Peace Index, sementara Jepang, Swiss, Finlandia, Denmark, Selandia Baru, Kanada, hingga Malaysia juga menempati posisi tinggi di kedua indeks tersebut.

Namun, ada sejumlah pengecualian. Amerika Serikat, Israel, Korea Selatan, Ukraina, dan Rusia memiliki paspor yang kuat, tetapi tidak berada di peringkat atas dalam indeks perdamaian. Sebaliknya, Afghanistan, Suriah, dan Yaman menjadi negara dengan tingkat perdamaian terendah sekaligus memiliki paspor paling lemah.

Ketua Henley & Partners, Christian H. Kaelin, mengatakan kekuatan paspor mencerminkan posisi suatu negara di dunia, bukan hanya tingkat kemakmuran atau keamanannya.

"Data selama 20 tahun menunjukkan bahwa kekuatan paspor merupakan salah satu gambaran paling jelas dari modal geopolitik suatu negara. Hal itu mencerminkan lebih dari sekadar perdamaian atau kemakmuran," kata Kaelin.

"Dunia memberikan paspor terkuat kepada negara-negara yang dianggap sebagai mitra penting dalam perdagangan, investasi, keamanan, maupun kerja sama. Pada akhirnya, mobilitas menunjukkan seberapa besar nilai hubungan suatu negara di mata negara lain," Kaelin menambahkan.

(upd/fem)