Pasutri asal Sumenep dikaruniai bayi kembar usai 22 tahun menanti - ANTARA News Jawa Timur
Penantian panjang kami sejak menikah akhirnya terjawab
Surabaya (ANTARA) - Pasangan suami istri asal Sumenep, Madura, Yusuf Santoso dan Mina akhirnya dikaruniai bayi kembar setelah 22 tahun menantikan kehadiran buah hati melalui program fertilisasi in vitro (IVF) di Morula IVF Surabaya.
"Penantian panjang kami sejak menikah akhirnya terjawab dengan kelahiran dua anak kami, Ryan dan Raina, pada 2 Juni 2026. Kami tidak menyangka bisa seperti ini. Alhamdulillah, akhirnya Allah SWT memberikan kepercayaan kepada kami," kata Yusuf di Surabaya, Sabtu.
Ia menuturkan, selama lebih dari dua dekade dirinya bersama sang istri telah menempuh berbagai upaya untuk memperoleh keturunan, mulai berkonsultasi dengan sejumlah dokter, menjalani pengobatan alternatif, hingga mengikuti berbagai saran dari kerabat, namun seluruh ikhtiar tersebut belum membuahkan hasil.
Yusuf mengaku, sempat hampir menyerah hingga mendengar kisah tetangganya yang berhasil memiliki anak melalui program bayi tabung di Morula IVF Surabaya bersama dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas, dr. Benediktus Arifin atau dr. Benny.
Pengalaman itu, mendorong Yusuf dan Mina menjalani program IVF meski harus menempuh perjalanan sekitar empat jam dari Sumenep menuju Surabaya setiap kali menjalani pemeriksaan dan terapi.
Ia berharap kisah yang dialaminya dapat menjadi penyemangat bagi pasangan lain yang masih berjuang memperoleh keturunan.
Sementara itu, dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas Morula IVF Surabaya dr. Benediktus Arifin menjelaskan hasil pemeriksaan menunjukkan kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) Mina hanya 0,1, jauh di bawah kisaran normal 2 hingga 3 yang mencerminkan cadangan sel telur perempuan.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat peluang kehamilan secara medis relatif kecil, bahkan telah mengarah pada fase premenopause sehingga pasien lebih dahulu menjalani tindakan laparoskopi sebelum memasuki program IVF.
Selama sekitar delapan bulan pendampingan, kata dia, tim medis memperoleh dua embrio berkualitas baik yang kemudian ditanam pada hari kelima dan keduanya berkembang menjadi kehamilan.
"Kasus dengan penantian 22 tahun, AMH 0,1, kemudian berhasil hamil bayi kembar, ini pertama kali saya alami," ucap dr. Benny.
Ia mengatakan kehamilan kembar pada usia Mina yang telah mencapai 41 tahun memerlukan pemantauan intensif hingga akhirnya kedua bayi lahir dalam kondisi baik pada usia kehamilan sekitar 36 hingga 37 minggu.
Oleh karena itu, dr. Benny mengingatkan pasangan yang merencanakan kehamilan agar tidak menunda pemeriksaan kesuburan, terutama setelah memasuki usia 35 tahun.
"Karena kualitas sel telur maupun sperma akan terus menurun seiring bertambahnya usia," tuturnya.
Pewarta: Naufal Ammar Imaduddin
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.