Salah satu agenda utama adalah Apel Hari Santri Nasional 2026 yang akan digelar secara serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Untuk peserta laki-laki, PBNU menetapkan penggunaan sarung berwarna gelap, atasan putih, dan peci hitam. Sementara peserta perempuan mengenakan busana muslimah bernuansa putih dengan bawahan yang menyesuaikan.

Apel dapat dilaksanakan di halaman sekretariat NU sesuai tingkatan kepengurusan. Kegiatan juga dapat dipusatkan di lingkungan pondok pesantren, rumah sakit atau klinik, sekolah, madrasah, maupun perguruan tinggi Nahdlatul Ulama.

Dalam apel tersebut, Naskah Resolusi Jihad NU juga dapat dibacakan oleh jajaran Tanfidziyah atau Badan Otonom NU.

Sebelum rangkaian kegiatan berlangsung, PBNU menginstruksikan jajaran NU untuk mengawalinya dengan ziarah ke makam ulama, aulia, maupun muharrik NU di wilayah khidmah masing-masing.

Mujahadah untuk Palestina

Perhatian khusus diberikan PBNU terhadap solidaritas kemanusiaan untuk Palestina. Seluruh jenjang kepengurusan NU diminta menggelar Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina sebagai bagian dari rangkaian Hari Santri 2026.

Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui majelis istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah, maupun majelis doa lainnya.

PBNU menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari riyadhah bathiniyyah sekaligus bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Palestina.

Komitmen itu sejalan dengan perhatian Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat menerima sejumlah tokoh Palestina di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Minggu (27/9/2026).

Selain kegiatan keagamaan, PBNU juga meminta jajaran NU mengisi Hari Santri dengan kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.

Sejumlah kegiatan yang dapat digelar antara lain layanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi keluarga dan zakat, hingga kegiatan peduli lingkungan seperti perbaikan sanitasi pesantren atau madrasah dan bersih-bersih masjid.

PBNU juga mendorong pelaksanaan halaqah yang melibatkan ulama dan pondok pesantren di wilayah masing-masing.