Peluncuran PLTS 100 GW menjadi titik awal eksekusi cepat
Jakarta (ANTARA) - Institute for Essential Services Reform (IESR) menyatakan peluncuran dan groundbreaking proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) harus menjadi awal dari tahapan eksekusi yang jauh lebih besar karena ini merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi.
"Keberhasilan program PLTS 100 GW tidak diukur dari berapa banyak proyek yang di-groundbreaking, tetapi dari berapa gigawatt PLTS yang dapat dibangun, tersambung ke jaringan, dan menghasilkan listrik secara andal sebelum 2029," kata Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, pembangunan PLTS 100 GW dapat mengurangi ketergantungan Indonesia, khususnya Bali pada pasokan energi fosil dan pasokan listrik dari luar pulau.
Kombinasi PLTS dan battery energy storage system (BESS) juga dapat meningkatkan keandalan sistem kelistrikan Bali dengan menyediakan sumber listrik lokal sekaligus fleksibilitas untuk mengelola variabilitas energi surya.
Menurut dia, pemilihan Bali sebagai lokasi peluncuran program memiliki arti strategis. Bali telah mencanangkan visi Bali Net Zero Emission 2045, yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Bali bersama IESR dan berbagai pemangku kepentingan sejak 2023.
IESR menilai dukungan pemerintah pusat dan PLN melalui investasi PLTS dan BESS akan memperkuat upaya Bali mencapai kemandirian energi dan emisi nol bersih lebih cepat dari target nasional.
"Tantangan terbesar sekarang adalah mengubah komitmen politik Presiden menjadi mesin implementasi yang mampu membangun puluhan gigawatt PLTS setiap tahun," ujarnya.
Untuk bisa berhasil program ini memerlukan arsitektur implementasi nasional yang kuat, konsisten, dan memiliki kepastian hukum. Pemerintah perlu segera menetapkan kepemimpinan program yang mempunyai kewenangan melakukan koordinasi lintas kementerian, PLN, pemerintah daerah, industri, lembaga pembiayaan, serta pelaku usaha.
Sebelumnya, Direktur Utama (Dirut) PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan Indonesia sedang menjalankan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terbesar di dunia.
“Ongoing project tenaga surya yang terbesar di dunia saat ini adalah di Uni Emirat Arab sebesar 5,2 gigawatt-peak (GWp). Jadi, proyek (tahap awal) 5,3 GWp pun sudah adalah ongoing project terbesar di dunia,” ujar Darmawan setelah acara Launching dan Groundbreaking Program PLTS 100 GWp yang berlangsung di Gilimanuk, Bali, Selasa.
Baca juga: Kementerian ESDM mengkaji pengembangan PLTS sepanjang Tol Trans-Jawa
Dalam acara tersebut, pemerintah mengumumkan 14 proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 5,3 GWp.
Sebanyak 14 proyek tersebut memiliki nilai investasi kurang lebih 7,7 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp135 triliun, dengan potensi penghematan APBN Rp4,6 triliun per tahun.
Pewarta : Khaerul Izan
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026