REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Pemkab Bandung Barat mendorong pelaku usaha perikanan di wilayahnya berkontribusi untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ikan hasil produksi lokal di Kabupaten Bandung Barat bisa dipasok untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

Untuk menjembatani pelaku usaha perikanan di KBB dengan SPPG, Pemkab Bandung Barat memiliki tata kelola rantai pasok perikanan melalui JARING MINA SPPG. Program ini diluncurkan di UPTD Pembenihan Ikan pada Dinas Perikanan dan Peternakan KBB. 

JARING MINA SPPG mengintegrasikan sejumlah unsur, mulai dari UPTD Pembenihan Ikan, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), pembudidaya ikan, Unit Pengolahan Ikan (UPI), dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). "JARING MINA SPPG dirancang sebagai model Integrated Local Fish Supply Chain Governance," kata Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti saat dikonfirmasi, Sabtu (10/10/2026). 

Melalui skema tersebut, produksi ikan tidak lagi hanya berorientasi pada jumlah, tetapi diarahkan berdasarkan kebutuhan SPPG. Dengan demikian, hasil budidaya diharapkan memiliki pasar yang lebih jelas sekaligus dapat masuk ke rantai pasok pangan bergizi.

Dalam skema tersebut, rantai pasok dimulai dari penyediaan benih oleh UPTD Pembenihan Ikan, dilanjutkan dengan budidaya oleh KDMP dan pembudidaya, pengolahan oleh UPI, kemudian penyerapan produk oleh SPPG. "Produksi diarahkan berdasarkan kebutuhan SPPG sehingga rantai pasok tidak berjalan sendiri-sendiri," ucap Wiwin. 

Dia melanjutkan, secara umum produksi ikan dari keramba jaring apung (KJA) Waduk Saguling dan Cirata, serta kolam darat mengalami penurunan karena menyusutnya air akibat kemarau panjang. Produksi ikan dari Januari-Agustus 2026 mencapai 28.748 ton. Jumlah itu menurun dibandingkan capaian diperiode yang sama tahun 2025 yang mencapai 38.296 ton. 

"Produksi ikan di KBB sampai triwulan III 2026 mengalami penurunan. Sampai bulan Agustus produksi ikan sekitar 28.748 ton dari target 29.648 ton pada bulan Agustus 2026," ungkap Wiwin.

Menurutnya, menurunya produksi ikan baik di KJA yang berada di Waduk Saguling dan Cirata hingga kolam dikarenakan kemarau panjang yang sangat. Sebab, kemarau panjang membuat sumber air, sungai, kolam maupun waduk menurun. 

"Kalau ketersediaan air terus menurun, otomatis ruang untuk kegiatan budidaya juga terbatas. Kondisi ini pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas pembudidaya," jelas Wiwin. 

Pihaknya berharap produksi ikan kembali mengalami peningkatan di akhir tahun ini seiring masuknya musim penghujan. Dengan begitu, maka kolam darat ataupun KJA di Waduk Saguling dan Cirata debit airnya akan kembali naik sehingga produksi ikan akan kembali normal. 

"Dan prediksi produksi kembali meningkat yaitu ketika musim hujan tiba antar bulan November-Desember," ucap Wiwin. 

Dia melanjutkan, Kabupaten Bandung Barat menjadi salah satu wilayah produsen penghasil ikan air tawar di Jawa Barat yang mayoritas ditopang dengan keberadaan pembudidaya KJA di Waduk Saguling dan Cirata. "Untuk ukuran puluan ribu ton setiap tahunnya cukup besar kalau di Jawa Barat khusus ikan air tawar dari dua waduk itu," ujarnya. 

Untuk ke depan, pihaknyaa berharap para pembudi daya KJA di Waduk Saguling dan Cirata untuk beralih ke kolam darat. "Harapan ke depan para pembudidaya ikan di KJA mulai beralih ke kolam darat, karena kapasitasnya sudah melebihi dari ketentuan yang telah ditetapkan," ujar Wiwih.

Foto: Foto: Pembudidaya Ikan di Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat. Produksi ikan di wilayah itu mengalami penurunan akibat kemarau. (Ferry Bangkit Rizki/Republika).