Pemda sebut BBW menjadi upaya meningkatkan literasi di Yogyakarta

Kamis, 3 September 2026 17:09 WIB

Image Print

Salah satu pengunjung berebut buku saat pembukaan Bazar Buku BBW 2026 di Jogja Expo Center, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (3/9/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyampaikan gelaran Bazar Buku Internasional Big Bad Wolf (BBW) 2026 menjadi salah satu upaya memperkuat ekosistem literasi melalui perluasan akses masyarakat terhadap bahan bacaan berkualitas.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY Zulfa Kurniawan di Bantul, Kamis, mengatakan tingkat literasi masyarakat dapat mendorong perubahan sekaligus mengubah cara pandang seseorang dalam memahami dunia.

"Satu buku dapat mengubah cara seseorang memahami dunia. Dari satu pembaca, perubahan itu dapat tumbuh menjadi perubahan masyarakat," katanya.

Menurut dia, penyelenggaraan BBW tidak hanya menjadi ajang menghadirkan buku, tetapi juga mendorong tumbuhnya minat baca serta menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Mendorong tumbuhnya minat baca, dan menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan bagi seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.

Ia mengatakan buku merupakan bagian dari ekosistem pengetahuan dan kebudayaan, sehingga keberadaan kegiatan literasi dan acara bertemakan buku diharapkan terus tumbuh di DIY.

"Di tahun 2026, kami mencatat banyak acara literasi dan perbukuan berlangsung dalam waktu yang relatif berdekatan. Ini adalah kabar baik, DIY semakin dipercaya sebagai ruang tumbuhnya ekosistem literasi dan perbukuan," katanya.

Ia menyebut Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di DIY pada 2025 tercatat sebesar 48,05 dan termasuk cukup tinggi secara nasional.

Namun, menurut dia, pembenahan tetap perlu dilakukan untuk memastikan tingginya aktivitas literasi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Jadi bukan hanya menghadirkan lebih banyak kegiatan, melainkan memastikan kegiatan tersebut menghasilkan dampak literasi yang nyata," ujarnya.

Oleh karena itu, ia menilai perhelatan Bazar Buku BBW merupakan bentuk sinergi dalam mengembangkan ekosistem literasi di DIY yang menjadi salah satu daerah barometer literasi nasional.

"Ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama membangun masyarakat Yogyakarta yang lebih cerdas, lebih berbudaya, dan semakin sejahtera," katanya.

Sementara itu, Country Director Big Bad Wolf Book Indonesia Mathias Wandi Budianto mengatakan Bazar Buku BBW di Jogja Expo Center (JEC) diselenggarakan pada 3-13 September bertepatan dengan Hari Aksara Internasional dan masa aktif perkuliahan menjadi momentum tepat untuk menarik lebih banyak pengunjung.

"Ternyata begitu kita mulai lebih awal pun jumlah antriannya justru lebih besar daripada tahun lalu," katanya.

Menurut dia, jenis buku yang paling diminati pengunjung adalah buku anak dari luar negeri yang menghadirkan banyak inovasi dan pengembangan untuk pembelajaran anak usia dini.

"Jadi, dia ada teknologi pop-up-nya, ada teknologi sound-nya, lebih interaktif, jadi pengalaman membaca anak tuh jauh lebih menyenangkan," ujarnya.

Salah satu pengunjung asal Kotagede, Yogyakarta, Susi mengatakan dirinya selalu hadir setiap tahun untuk membeli buku pembelajaran bagi cucunya yang berusia di bawah enam tahun.

"Jadi buku-buku sini tuh bagus buat belajar cucu saya, ada banyak pilihannya dan cocok untuk anak-anak," katanya.

Mayoritas buku yang dibelinya merupakan buku anak yang dilengkapi gambar dan suara interaktif, sehingga lebih mudah dipahami oleh anak-anak.

"Misalnya mengenalkan binatang, nanti ada gambar dan suaranya, jadi tidak harus ke kebun binatang," ujarnya.

Selain itu, menurut Susi, mengenalkan buku kepada anak sejak dini dinilai lebih baik dibandingkan pembelajaran melalui telepon seluler yang menurutnya dapat memaparkan radiasi cahaya.

"Buat cerita sebelum cucu tidur, saya pilihkan buku dongeng misalnya yang cocok untuk mereka," katanya.

Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026