Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) ketahuan menggunakan model kecerdasan buatan (AI) buatan China untuk membantu pencarian aturan federal yang diusulkan. Tapi di satu sisi, pengembang AI tersebut tengah dituding meniru teknologi perusahaan AI AS.

Situs Federal Register yang dikelola National Archives sempat menyediakan fitur pencarian berbasis Qwen, model AI besutan Alibaba.

Fitur tersebut digunakan untuk membantu pengguna menelusuri komentar publik terkait rancangan regulasi federal.

Pilihan Redaksi

  • Bill Gates Tiba-Tiba Ajak Seluruh Manusia Bersatu Lawan Alien
  • Sumber Duit AS Bisa Lenyap Direbut China, Chip Huawei Meluncur 2027
  • AI Salah Kasih Info, AS Nyaris Serang Kapal China-Picu Perang Terbesar

Mengutip laporan Reuters, Sabtu (19/9/2026) fitur tersebut tersedia pada Rabu (16/9) tetapi kemudian dihapus setelah penggunaannya ramai dibahas di media sosial. Belum jelas kapan fitur Qwen mulai digunakan.

Penggunaan AI China itu menjadi sorotan karena FBI pada pekan sebelumnya menuduh Alibaba melakukan penyalinan berbahaya terhadap teknologi AI milik Anthropic. Pejabat AS bahkan menyebut perusahaan AI China melakukan penyalinan teknologi AS dalam skala industri. China membantah tuduhan tersebut.

Daniel Castro dari Information Technology and Innovation Foundation menilai penggunaan Qwen bertentangan dengan persaingan teknologi AI antara AS dan China.

"Ini adalah salah satu hal paling gila yang pernah saya lihat," kata Castro.

Meski demikian, pakar keamanan mengatakan penggunaan Qwen di Federal Register belum tentu menimbulkan risiko keamanan nasional karena situs tersebut memuat informasi yang sudah tersedia untuk publik.

Anggota DPR AS John Moolenaar tetap menentang penggunaan AI China oleh pemerintah.

"Tidak ada entitas pemerintah federal yang boleh menggunakan model AI China. Melakukan hal itu hanya membuat pemerintah federal semakin bergantung pada model AI China dan itu bukan kepentingan nasional," kata Moolenaar.

Senator AS Mark Warner juga menyoroti aspek keamanan data. Menurutnya, risiko bergantung pada apakah data AS keluar dari batas keamanan pemerintah dan diproses pada sistem yang dikendalikan Alibaba.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]