Pemimpin BRICS Kumpul di India, Perang dan Rivalitas Uji Kekompakan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346889/original/086236500_1789217838-Untitled.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, New Delhi - KTT BRICS berlangsung ketika perang Ukraina dan di Timur Tengah serta ketegangan Amerika Serikat (AS)-China menguji kemampuan kelompok tersebut untuk mengambil sikap bersama.
Sebagai tuan rumah, India dinilai akan berupaya menjaga keseimbangan antara hubungannya dengan China dan Rusia dan kemitraannya yang semakin erat dengan AS serta negara-negara Barat lainnya.
Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian termasuk di antara para pemimpin yang hadir dalam KTT BRICS.
BRICS merupakan kelompok negara pasar berkembang utama dan negara berkembang. Namanya berasal dari akronim Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.
Dari lima negara awal, BRICS kini telah berkembang menjadi kelompok beranggotakan 11 negara, termasuk Indonesia dan Malaysia. Secara keseluruhan, negara-negara tersebut mencakup sekitar separuh populasi dunia dan memiliki porsi besar dalam sumber energi, sumber daya alam, serta perekonomian global.
Namun, para pakar menilai bertambahnya jumlah anggota juga semakin memperlihatkan perbedaan di dalam BRICS. Negara-negara anggotanya sama-sama menginginkan pengaruh yang lebih besar dalam tatanan global, tetapi kerap memiliki kepentingan politik, ekonomi, dan kebijakan luar negeri yang berbeda, bahkan saling bersaing.
BRICS Hadapi Perbedaan Sikap soal Iran dan Ukraina
Konflik di Iran dan Ukraina diperkirakan semakin memperlihatkan perbedaan tersebut. Iran merupakan bagian dari BRICS yang telah diperluas, sementara Rusia tetap menjadi salah satu anggota paling berpengaruh.
China memiliki hubungan dekat dengan kedua negara itu. Sementara India tetap menjalin hubungan dengan Rusia, Iran, AS, dan Eropa.
Perbedaan kepentingan tersebut membuat BRICS sulit mengambil sikap bersama yang tegas terhadap konflik-konflik besar. Kelompok ini juga beranggotakan sejumlah negara dengan kepentingan dan ambisi regional yang saling bersaing, seperti India dan China, Iran dan Arab Saudi, serta Mesir dan Ethiopia, selain negara-negara lain dari Global South.
"Global South bukanlah entitas yang seragam," kata Praveen Donthi, analis senior International Crisis Group seperti dikutip dari Associated Press. "Karena itu, kelompok ini akan kesulitan mengelola dan menjadi penengah dalam konflik-konflik tersebut."
Perang Rusia di Ukraina telah menunjukkan keterbatasan India dalam menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertentangan. New Delhi tetap menjaga hubungan dekat dengan Moskow, termasuk melalui kerja sama di bidang energi dan pertahanan, sambil terus mempererat hubungan strategis dengan Washington.
India selama ini konsisten menyerukan dialog dan diplomasi tanpa memihak salah satu kubu.
Konflik Iran-AS menghadirkan tantangan serupa. Negara-negara anggota BRICS memiliki hubungan yang berbeda-beda dengan Washington dan kepentingan masing-masing di Timur Tengah, sehingga sulit bagi mereka untuk menyepakati satu sikap bersama.
China dan Rusia telah mendukung Iran di berbagai forum internasional, sedangkan India memilih bersikap lebih hati-hati. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga memiliki ketegangan tersendiri dengan Iran.
Sarana India Menjalin Hubungan dengan China
Bagi India, pertemuan puncak BRICS juga menjadi kesempatan untuk menata hubungannya dengan China. Hubungan kedua negara telah membaik setelah ketegangan di perbatasan memuncak pada 2020. Meski demikian, China tetap menjadi rival strategis terbesar India.
Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke New Delhi, yang menjadi kunjungan pertamanya dalam tujuh tahun, dapat semakin memperkuat mencairnya hubungan diplomatik kedua negara belakangan ini. Namun, belum banyak tanda yang menunjukkan hubungan perdagangan dan bisnis mereka akan segera pulih.
"Pertemuan puncak mendatang memberi India kesempatan untuk berinteraksi dengan China dan mencapai kemajuan dalam sejumlah persoalan bilateral yang belum terselesaikan," tutur Praveen.
India berkepentingan pula untuk mencegah BRICS berkembang menjadi blok yang secara terang-terangan berseberangan dengan Barat.
New Delhi telah memperkuat hubungan dengan AS, Israel, Jepang, Australia, dan Eropa, sembari tetap mempertahankan hubungan yang telah lama terjalin dengan Rusia.
"Dengan menjadi bagian dari kelompok non-Barat, India ingin menunjukkan bahwa mereka tetap bebas menentukan arah kebijakan luar negerinya sendiri. Pada saat yang sama, India juga melihat manfaat dari tetap menjalin hubungan dengan China, rival strategis utamanya," ungkap Donthi.
BRICS Ingin Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Mengurangi ketergantungan pada dolar AS menjadi salah satu isu utama bagi BRICS. Negara-negara BRICS telah membahas penggunaan mata uang masing-masing dalam perdagangan antarnegara, sekaligus mengembangkan sistem pembayaran yang dapat mengurangi ketergantungan mereka pada lembaga keuangan Barat.
Gagasan tersebut semakin mendapat perhatian setelah negara-negara seperti Rusia menghadapi sanksi luas dari Barat.
Namun, menggantikan dolar bukan perkara mudah. Mata uang AS itu telah digunakan secara luas dalam perdagangan dan sistem keuangan global, sementara negara-negara BRICS memiliki mata uang, sistem keuangan, dan prioritas ekonomi yang berbeda-beda.
Mahesh Sachdev, mantan diplomat India, mengatakan tujuan BRICS bukan untuk melawan atau menggantikan dolar AS secara langsung. Menurut dia, negara-negara anggota lebih ingin mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan yang dapat digunakan sebagai alat tekanan politik.
"Ini memang sebuah tantangan, tetapi kita tidak sedang membicarakan konfrontasi langsung. Persoalannya bukan memilih antara menggunakan dolar atau meninggalkannya sama sekali," katanya.
Pengaruh BRICS Bergantung Hasil yang Mampu Diwujudkan
Jumlah anggota yang semakin banyak membuat BRICS memiliki bobot yang cukup besar. Namun, seberapa besar pengaruh kelompok tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan para anggotanya menyepakati langkah-langkah nyata.
BRICS telah menyerukan perubahan pada lembaga-lembaga keuangan global, peningkatan keterwakilan negara berkembang, serta pembentukan alternatif terhadap sistem yang didominasi Barat. Namun, negara-negara anggotanya kerap berbeda pandangan mengenai cara mencapai tujuan tersebut.
Sachdev mengatakan BRICS membutuhkan sikap yang lebih kompak dan keselarasan yang lebih baik di antara para anggotanya.
"Jika hanya menjadi forum pertemuan berkala untuk berbicara dan berfoto bersama," ujarnya, "maka relevansinya akan terkikis."
Donthi mengatakan keberhasilan BRICS dapat diukur dari sejumlah kemajuan kecil. Di antaranya menjaga keutuhan kelompok setelah jumlah anggotanya bertambah hingga memperdalam kerja sama perdagangan dan keuangan.
Menurut dia, BRICS juga dapat menunjukkan bahwa kelompok tersebut mampu menyediakan wadah bagi negara-negara berkembang tanpa memaksa mereka memilih antara kubu Barat dan non-Barat.
"BRICS memungkinkan tercapainya kemajuan geopolitik secara bertahap, meski bukan kemenangan besar secara langsung," imbuh Donthi.
![]()
Khairisa FeridaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
Sixtainability
Pasar Karbon Berkualitas Bukan Sekadar Kejar Nilai Ekonomi18 jam yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
Dari Sampah Jadi Green Jobs, TPS3R Guwosari Ciptakan Peluang Ekonomi Warga1 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
Sampah Serang Raya Bakal Diubah Jadi Listrik1 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
Kolaborasi Lintas Negara Jadi Kunci Hadapi Krisis Iklim di Asia Tenggara2 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
Kisah M A Hasibuan Dampingi UMKM Naik Kelas, Medan Berlumpur Tak jadi Penghalang3 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
Mangrove Berperan Jaga Pesisir dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat3 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
Kisah Mantri BRI Menembus Pegunungan Toraja Utara demi Bantu Warga Akses Layanan Perbankan3 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
Menembus Akses Sulit di Perbatasan, Kisah Novi Dampingi Nasabah PNM Mekaar di Pulau Sebatik3 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343928/original/029365100_1788925942-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_09.14.10.jpeg)
Dari Tempurung hingga Tongkol, Limbah Pertanian Disulap Jadi Energi4 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
Kisah AO PNM Mekaar Dampingi Pengusaha Rumput Laut di Sebatik hingga Buka Peluang Kerja4 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343054/original/075440100_1788842362-WhatsApp_Image_2026-09-08_at_11.15.32.jpeg)
Dari Pala jadi Peluang Usaha, Program Klaster Unggulan BRI Peduli Perkuat Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani di Bogor5 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342609/original/043600500_1788780135-1.jpg)
Aset Karbon PLTP Gunung Salak Jadi Sumber Ekonomi Baru5 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342572/original/072108600_1788776192-WhatsApp_Image_2026-09-05_at_8.00.42_AM.jpeg)
Lihat Selengkapnya