REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG, – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Polda Sumsel melakukan penelusuran terkait menipisnya stok beras premium di sejumlah jaringan ritel modern di Palembang. Langkah ini diambil menyusul laporan berkurangnya pasokan secara signifikan dari kondisi normal.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel Edward Candra di Palembang, Selasa, menyatakan penelusuran akan dilakukan secara menyeluruh hingga ke tingkat pabrik dan penggilingan. Tujuannya untuk mengidentifikasi akar permasalahan yang menyebabkan berkurangnya pasokan beras premium ke lebih dari 600 gerai ritel modern.

"Kita sudah melihat ketersediaan beras, utamanya beras premium. Memang kalau kita lihat, stok berkurang dari rutin biasanya. Sebab mereka ini mengisi untuk lebih 600 gerai," kata Edward.

Penelusuran ke Pabrik dan Penggilingan

Edward menjelaskan bahwa keterbatasan pasokan tidak hanya terlihat di gudang ritel, tetapi juga diduga berkaitan dengan pasokan yang diterima dari pabrik dan penggilingan. Oleh karena itu, TPID akan segera melakukan inspeksi langsung ke fasilitas produksi.

"Setelah ini TPID juga akan melihat langsung ke pabrik. Kita akan melihat persoalannya seperti apa sehingga ada keterbatasan stok. Ini baru salah satu, mungkin tempat lain menurut informasi juga mengalami keterbatasan," jelasnya.

Meskipun demikian, Edward menegaskan bahwa kondisi ini belum dapat dikategorikan sebagai kelangkaan. Pasalnya, beras premium masih tersedia di pasaran, hanya saja volumenya mengalami penurunan.

"Sejauh ini barangnya ada, hanya sedikit. Biasanya yang mereka masukkan itu lebih banyak, sekarang berkurang. Barangnya ada, tetapi volumenya berkurang," ujarnya.

Dorong Pasokan SPHP dan Operasi Pasar

Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Sumsel mendorong penambahan pasokan Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui depo atau gudang ritel maupun distribusi langsung kepada masyarakat. Pihaknya juga akan terus melaksanakan Operasi Pasar Murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah (GPM).

Pemprov Sumsel bersama Bank Indonesia juga menyiapkan sejumlah titik di pasar tradisional sebagai depot penyeimbang untuk menyediakan beras SPHP dan beras premium bagi masyarakat.

Harga Gabah Tinggi Jadi Pemicu

Sementara itu, Pimpinan Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel Ihsan mengungkapkan bahwa kondisi pasokan beras premium juga berkaitan erat dengan tingginya harga gabah sebagai bahan baku. Ia menjelaskan harga gabah saat ini berada di kisaran Rp7.700 per kilogram.

"Kalau harga gabah Rp7.700 belum lagi biaya produksi, biaya packing dan lain-lain kalau ditotal, modalnya bisa sekitar Rp16 ribu untuk premium," jelas Ihsan.

Tingginya harga pokok produksi ini dinilai mempengaruhi rantai pasok. Ihsan juga mengusulkan pengaturan distribusi gabah keluar Sumsel dengan mempertimbangkan kondisi pasokan lokal. Ketika pasokan di Sumsel terbatas, pengiriman gabah ke luar daerah dapat dikurangi, sedangkan saat musim panen pasokan dapat kembali didistribusikan ke daerah lain.

"Kalau harga naik, sebaiknya stop kirim ke luar daerah. Sedangkan kalau sedang musim panen, silakan jual keluar Sumsel," kata Ihsan.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara