Penembakan oleh Siswa di Thailand, Benarkah Dipicu Perundungan? Ini Kesaksian Teman dan Keluarga
Minggu, 9 Agustus 2026 - 16:20 WIB
VIVA –Kasus penembakan yang terjadi di Debsirin Nonthaburi School Thailand, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, mendapat sorotan publik. Penembakan yang terjadi pada Jumat siang, 7 Agustus 2026, tersebut diketahui dilakukan oleh seorang siswa sekolah itu.
Baca Juga
Menyusul insiden tersebut, muncul spekulasi di tengah masyarakat bahwa aksi penembakan itu dipicu oleh dugaan perundungan yang dialami pelaku di lingkungan sekolah. Mengenai dugaan tersebut, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul meminta agar masayarakat tidak berspekulasi demikian.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menyebut bahwa penyidik harus terlebih dahulu mengungkap fakta yang sebenarnya. Melansir laman Bangkok Post, Minggu 9 Agustus 2026, Anutin juga menyerukan agar pengawasan terhadap kepemilikan dan penggunaan senjata api diperketat.
Baca Juga
Dia memperingatkan bahwa orang yang membawa senjata api di tempat umum tanpa memiliki kewenangan sebagai petugas resmi dapat menghadapi tuntutan pidana serius. PM Thailand juga menolak usulan terkait guru yang dibekali senjata api untuk membela diri. Menurutnya, guru bukanlah aparat penegak hukum.
Ia juga memperingatkan bahwa pemilik senjata api dapat diproses secara hukum jika senjata yang berada di bawah tanggung jawab mereka dicuri dan kemudian digunakan untuk melakukan tindak kejahatan.
Baca Juga
Kesaksian Teman Sekolah
Seorang siswa di sekolah tersebut yang inisial M mengatakan bahwa ia mengenal siswa tersebut sejak Matthayom 1 hingga Matthayom 3 atau setara dengan kelas 7 hingga 9. M yakin temannya itu tidak pernah menjadi korban perundungan, diejek, maupun diserang oleh teman-teman sekelasnya. Menurut M, remaja tersebut jarang berbicara dengan orang lain dan biasanya duduk di pojok paling kiri di bagian belakang kelas.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia juga tidak pernah terlihat marah kepada teman sekelasnya ataupun terlibat perselisihan dengan mereka. Secara akademis, prestasinya tergolong baik. Namun, ia beberapa kali mengeluhkan guru bahasa Thailand. Ia merasa tidak sanggup mengerjakan banyaknya tugas yang diberikan dan pernah mendapatkan nilai nol atau tidak lulus dalam mata pelajaran tersebut. Siswa itu beberapa kali berusaha memperbaiki nilainya dan akhirnya berhasil. Ia juga sering membicarakan masalah tersebut dengan M.
M mengatakan, remaja tersebut sebelumnya pernah membawa senjata jenis BB gun ke sekolah di dalam tasnya. Ia menunjukkannya kepada teman-temannya dan menggunakannya untuk bermain tembak-tembakan di lingkungan sekolah. Setelah seorang siswa lain melaporkan kejadian itu, seorang guru menyita senjata tersebut dan mengurangi poin catatan kedisiplinannya sesuai dengan peraturan sekolah.
Halaman Selanjutnya
Pada hari penembakan, kata M, seluruh siswa, termasuk pelaku, mengikuti upacara pengibaran bendera pada pagi hari dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Penembakan terjadi pada jam pelajaran kedua, atau tepatnya saat jam pelajaran matematika. Ketika guru sedang menjelaskan tugas dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi kegiatan belajar ulang atau peninjauan materi.