Surabaya (ANTARA) - Peningkatan kapasitas terminal peti kemas perlu dibarengi dengan penguatan simpul logistik di darat, agar percepatan bongkar muat tidak memindahkan kemacetan ke depo, gudang, angkutan truk, maupun jaringan jalan.

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM Prof Kuncoro Harto Widodo mengatakan pertumbuhan arus peti kemas harus diimbangi penguatan seluruh simpul logistik melalui integrasi infrastruktur, data, sumber daya manusia, dan regulasi.

“Hambatan pada satu simpul akan berdampak pada simpul lainnya,” kata Kuncoro dalam keterangan PT Pelindo Terminal Petikemas, di Surabaya, Rabu.

Menurut dia, integrasi data antara terminal, perusahaan pelayaran, depo, perusahaan angkutan, kawasan industri, dan pemerintah perlu diperkuat dengan mengoptimalkan National Logistics Ecosystem (NLE), agar arus informasi dapat mengikuti bahkan mendahului pergerakan barang.

“Yang diidealkan itu aliran informasi mestinya setiap saat bahkan kalau bisa mendahului aliran barang,” ujarnya lagi.

Kuncoro juga mendorong pengembangan angkutan barang berbasis kereta api sebagai alternatif distribusi menuju pelabuhan, sekaligus mendukung penanganan kendaraan over dimension over load (ODOL) di jalur darat.

Praktisi kepelabuhanan dan logistik Institut Transportasi dan Logistik Trisakti Wahyono Bimarso mengatakan produktivitas terminal peti kemas yang semakin baik belum cukup apabila fasilitas setelah kontainer keluar dari pelabuhan tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.

“Terminal peti kemas kita sebenarnya sudah berstandar internasional, persoalan utama justru muncul setelah kontainer keluar dari pelabuhan,” kata Wahyono.

Ia mencontohkan, kondisi di Merauke yang masih menghadapi keterbatasan lapangan penumpukan dan gudang di belakang pelabuhan, sehingga penguatan kapasitas terminal perlu direncanakan bersama dengan fasilitas penyangga di sisi darat.

Ketua DPC INSA Semarang Hari Ratmoko menilai peningkatan produktivitas terminal, kapasitas dermaga, dan kedalaman alur tetap penting untuk mengakomodasi pertumbuhan trafik kapal, sementara depo kontainer dibutuhkan sebagai penyangga ketika lapangan penumpukan pelabuhan mulai padat.

Kebutuhan penguatan simpul darat juga terlihat di kawasan timur Indonesia seperti Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines Merauke Puji Hermoko yang mendorong penyediaan depo di luar kawasan pelabuhan untuk mengurangi tekanan ruang penumpukan dan biaya logistik.

Sementara itu, pengelola TPK Merauke menyiapkan revitalisasi lapangan penumpukan seluas 1,4 hektare beserta penguatan akses dan penambahan peralatan rubber tyred gantry crane (RTG).

Untuk TPK New Makassar dan TPK Ambon memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha serta pemangku kepentingan dalam menjaga kesinambungan pergerakan peti kemas dari terminal hingga ke tujuan.

Peningkatan kapasitas pelabuhan ini perlu ditempatkan sebagai bagian dari penguatan rantai logistik secara menyeluruh agar efisiensi bongkar muat dapat diteruskan hingga distribusi barang ke kawasan industri, pusat konsumsi, dan wilayah tujuan, katanya lagi.

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.